
Caption : Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Golkar ,Adde Rosi
JUARAMEDIA, LEBAK – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Golkar, Adde Rosi Khoerunnisa, menegaskan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) wajib menguasai teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di tengah percepatan digitalisasi pendidikan.
Namun, ia mengingatkan AI harus menjadi alat bantu pembelajaran, bukan membuat guru kehilangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan peran utama dalam mendidik anak.
Hal itu disampaikan Adde Rosi saat menghadiri kegiatan pendidikan di Kabupaten Lebak, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, kemampuan menggunakan teknologi menjadi semakin penting seiring masuknya perangkat digital ke lingkungan sekolah. Salah satunya melalui pemanfaatan Papan Interaktif Digital atau Personal Interactive Display (PID) sebagai sarana pendukung pembelajaran.
“Yang menjadi tolak ukur pertama adalah AI harus dikuasai oleh guru. Guru jangan sampai tidak bisa berpikir kritis gara-gara ada AI. Tetap harus berinovasi dan berkreasi karena mengajar anak PAUD berbeda dengan mengajar usia dewasa,” ujar Adde Rosi.
Adde Rosi juga menyoroti program digitalisasi pembelajaran pemerintah yang menyasar ratusan ribu satuan pendidikan di Indonesia.
Data pemerintah menyebut sebanyak 288.865 satuan pendidikan menjadi sasaran program digitalisasi pembelajaran, termasuk pemanfaatan perangkat digital untuk mendukung proses belajar mengajar.
Menurut Adde, keberadaan perangkat seperti smartboard tidak boleh berhenti pada tahap pengadaan dan distribusi.
Guru harus memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya secara optimal dalam proses pembelajaran.
Ia mencontohkan, teknologi dapat digunakan untuk membantu guru PAUD menjelaskan konsep yang sulit dipahami anak jika hanya disampaikan secara verbal.
Misalnya, guru dapat menggunakan visualisasi untuk mengenalkan perbedaan antara ayam dan bebek, proses pertumbuhan tanaman, maupun berbagai materi sederhana yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
“AI ini adalah alat untuk guru mendeliver ilmunya kepada anak-anak. Kita harus menguasai AI, tapi jangan dibudakan oleh AI,” tegasnya.
Adde Rosi menilai AI memiliki manfaat besar dalam dunia pendidikan, terutama dalam membantu guru memperoleh informasi dan mengembangkan metode pembelajaran.
Namun, penggunaan AI juga memiliki risiko apabila informasi yang dihasilkan diterima begitu saja tanpa dilakukan pemeriksaan.
Karena itu, guru diminta tetap melakukan verifikasi atau crosscheck terhadap informasi yang diperoleh melalui teknologi AI sebelum menggunakannya sebagai bahan pembelajaran.
“Teknologi itu alat bantu. Guru tetap harus berpikir kritis, berinovasi dan berkreasi,” katanya.
Menurutnya, karakteristik pendidikan PAUD juga membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Interaksi langsung, kreativitas, permainan edukatif, serta kemampuan guru memahami karakter anak tetap menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Dalam kesempatan tersebut, Adde Rosi turut menyinggung persoalan kesejahteraan dan masa depan tenaga pendidik, termasuk guru honorer dan PPPK.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah dan DPR terus membahas kebijakan terkait penataan tenaga pendidik serta dukungan anggaran pendidikan.
Adde juga menyebut adanya tambahan anggaran pendidikan yang dibahas bersama Badan Anggaran DPR RI untuk mendukung kebutuhan pendidikan, termasuk operasional, gaji, dan tunjangan.
Di tengah perubahan tersebut, menurutnya, peningkatan kompetensi guru harus berjalan beriringan dengan digitalisasi sarana pendidikan.
Sebab, keberadaan perangkat teknologi di sekolah tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak dibarengi dengan kemampuan guru dalam menggunakannya.
Karena itu, ia mendorong guru PAUD tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memilih, memeriksa, dan mengolah informasi digital secara kritis.
“Guru harus menguasai AI, tetapi jangan sampai AI yang menguasai guru,” pungkasnya.(budi)