Tanah Bergerak Mengancam, Warga Kampung Angsana Lebak Hidup di Antara Retakan dan Puing

Yayat - JuaraMedia
9 Agu 2026 14:34
Daerah 0 46
3 menit membaca

Caption : Warga Kampung Angsana, Desa Karya Jaya, Cimarga

JUARAMEDIA, LEBAK – Ancaman tanah bergerak membayangi kehidupan warga Kampung Angsana, Desa Karya Jaya, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak.

Sedikitnya sembilan rumah mengalami kerusakan parah, mulai dari dinding retak, lantai patah hingga bagian bangunan amblas. Di tengah ancaman bangunan roboh, sejumlah warga terpaksa tetap bertahan di antara retakan dan puing karena keterbatasan ekonomi membuat mereka belum mampu pindah ke tempat yang lebih aman.

Kondisi tersebut menjadi persoalan serius bagi warga, terutama ketika hujan turun. Bangunan rumah yang sudah mengalami kerusakan dikhawatirkan semakin rapuh dan membahayakan keselamatan penghuni.

Erni, salah seorang warga Kampung Angsana, menceritakan kondisi rumah yang telah ditempatinya selama sekitar 15 tahun.

Kerusakan awalnya berupa retakan pada dinding dan lantai yang diduga berkaitan dengan pergerakan tanah. Kondisi tersebut kemudian semakin parah saat musim hujan pada awal 2026.

“Tadinya retak-retak, kemudian sedikit-sedikit mulai roboh. Bagian ruang tamu dan teras depan akhirnya rata dengan tanah,” kata Erni, Minggu (9/8/2026).

Karena khawatir bangunan yang sudah rapuh roboh dan menimpa keluarganya, Erni bersama suaminya terpaksa merobohkan bagian rumah yang dinilai membahayakan.

Kini, mereka hanya memanfaatkan bagian dapur untuk tempat tinggal.

“Takutnya nimpa orang,” ujarnya.

Selama sekitar tujuh bulan, Erni dan keluarganya bertahan dengan kondisi rumah yang sebagian telah berubah menjadi puing.

Kondisi serupa dialami Maesaroh. Bagian belakang rumahnya mengalami kerusakan cukup parah. Tembok terlihat terbelah, sedangkan lantai rumah mengalami patah.

Meski mengetahui kondisi rumahnya berisiko, Maesaroh belum mampu meninggalkan lokasi karena keterbatasan ekonomi.

“Pengennya mah cepat pindah, tapi nggak ada buat pindahnya. Suami saya cuma kerja serabutan,” keluh Maesaroh.

Rasa khawatir semakin besar saat cuaca buruk. Ia takut bangunan rumah yang telah mengalami kerusakan kembali roboh dan menimpa dirinya maupun keluarganya.

“Pengen tolong dibantu, pengen cepat pindah, takut ketimpahan,” ujarnya.

Warga mengungkapkan bantuan yang diterima sejauh ini masih berupa kebutuhan pangan, seperti beras dan mi instan.

Bantuan tersebut memang membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, persoalan utama yang dihadapi warga adalah keselamatan dan tempat tinggal yang aman.

Warga berharap pemerintah memberikan solusi yang lebih konkret, terutama melalui relokasi ke lokasi yang dinilai aman atau bantuan hunian apabila kawasan tersebut masih memungkinkan untuk ditempati.

Bagi warga yang kondisi ekonominya terbatas, meninggalkan rumah dan menyewa atau membangun tempat tinggal baru bukan perkara mudah.

Ancaman tanah bergerak membuat warga hidup dalam ketidakpastian. Mereka harus berhadapan dengan kondisi rumah yang rusak, sementara kemampuan untuk melakukan evakuasi secara mandiri sangat terbatas.

Karena itu, warga berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan ketika terjadi keadaan darurat, tetapi juga memastikan adanya penanganan jangka menengah dan panjang.

Langkah tersebut dapat dimulai dengan pendataan seluruh rumah terdampak, pemeriksaan kondisi bangunan, serta asesmen teknis terhadap pergerakan tanah di kawasan Kampung Angsana.

Jika berdasarkan kajian kawasan tersebut dinilai tidak layak huni, relokasi menjadi salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan untuk menjamin keselamatan warga.

Pemerintah Kabupaten Lebak melalui instansi terkait diharapkan segera melakukan asesmen menyeluruh terhadap kawasan terdampak di Desa Karya Jaya.

Asesmen penting dilakukan untuk mengetahui tingkat kerawanan tanah, jumlah rumah yang berisiko, serta menentukan langkah penanganan yang tepat.

Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan warga memperoleh informasi yang jelas mengenai status kawasan dan langkah mitigasi yang harus dilakukan apabila terjadi pergerakan tanah kembali.

Mereka kini hidup di antara retakan, puing, dan rasa takut—dengan harapan ada jalan keluar sebelum bencana yang lebih besar benar-benar terjadi.

Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Lebak atau instansi kebencanaan terkait hasil asesmen teknis maupun kepastian relokasi warga Kampung Angsana.(*budi)

 

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi