Hari Tani Nasional 2026 di Lebak: Tani Merdeka Soroti Harga Panen hingga Konflik Agraria

Yayat - JuaraMedia
23 Sep 2026 10:45
Daerah 0 43
5 menit membaca

Caption : Elen Ketua DPD Tani Merdeka Lebak, Ketika Memberikan Sambutan Pada Acara Peringatan Hari Tani Nasional 2026

JUARAMEDIA, LEBAK – Peringatan Hari Tani Nasional 2026 di Kabupaten Lebak tidak hanya menjadi ajang seremonial. Ketua DPC Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Lebak menyoroti sejumlah persoalan yang masih dihadapi petani, mulai dari harga hasil panen, pupuk, irigasi, permodalan, akses pasar hingga konflik agraria.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian peringatan Hari Tani Nasional 2026 yang digelar di Kabupaten Lebak, Rabu (23/9/2026).

Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Lebak, Elen, mengatakan petani selama ini menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Menurutnya, petani membutuhkan kepastian agar kerja keras dari proses tanam hingga panen dapat memberikan hasil yang layak.

“Petani boleh capek mencangkul, kepanasan di sawah, tetapi semangat Tani Merdeka Indonesia tidak boleh kendor,” ujar Elen dalam sambutannya.

Ia menyoroti persoalan harga hasil panen yang dinilai masih menjadi salah satu beban petani.

Menurut Elen, petani menanam dengan harapan, merawat tanaman dengan kesabaran, dan memanen dengan perjuangan. Namun, ketika hasil panen masuk pasar, harga yang diterima petani belum selalu sebanding dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan.

“Petani tidak membutuhkan terlalu banyak janji. Petani membutuhkan kepastian pupuk, kepastian produksi, kepastian pendampingan, dan yang tidak kalah penting kepastian pasar dan harga,” katanya.

Selain persoalan harga, Elen menyebut masih terdapat sejumlah persoalan lain yang perlu mendapat perhatian, seperti irigasi, keterbatasan alat dan mesin pertanian, lahan yang belum produktif, modal, serta pendampingan terhadap petani

Ia menegaskan Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Lebak siap menjadi mitra pemerintah untuk mengidentifikasi persoalan sekaligus ikut mencari solusi di lapangan.

“Kalau ada lahan yang belum produktif, mari kita dorong agar menjadi produktif. Apabila ada irigasi bermasalah, mari kita cari jalan keluarnya. Kalau petani kesulitan modal, mari kita buka akses seluas-luasnya. Kalau hasil panen kesulitan pasar, mari kita bangun jejaringnya,” ujarnya.

Elen juga mengingatkan agar perhatian terhadap petani tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

Ia menilai petani membutuhkan program yang benar-benar berdampak terhadap produktivitas dan kesejahteraan, bukan sekadar kegiatan simbolis.

“Petani itu bukan cuma disuruh foto di sawah. Petani butuh sawahnya produktif, bisa memanen dan mendapatkan hasil yang layak,” katanya.

Menurut dia, organisasi yang bergerak di bidang pertanian harus hadir ketika petani menghadapi persoalan, bukan hanya ketika terdapat kegiatan atau bantuan pemerintah.

Sementara itu, Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, dalam kesempatan yang sama menyoroti persoalan reforma agraria dan konflik lahan yang masih dihadapi masyarakat di berbagai daerah.

Don mengatakan Hari Tani Nasional seharusnya menjadi momentum untuk mengingat kembali persoalan mendasar yang dihadapi petani, termasuk akses terhadap lahan.

“Petani ini bukan hanya butuh pupuk, bukan hanya butuh pestisida, benih atau traktor, tetapi juga butuh lahan untuk digarap,” ujar Don.

Ia meminta jajaran Tani Merdeka di Banten, khususnya Kabupaten Lebak, melakukan pemetaan terhadap persoalan dan konflik agraria yang terjadi di wilayahnya.

Menurut Don, pemetaan tersebut diperlukan agar persoalan agraria yang dihadapi masyarakat dapat diketahui secara jelas dan dikawal melalui mekanisme yang tersedia.

“Petakan di mana ada konflik-konflik yang menyangkut tentang agraria. Hari Tani ini bukan hanya memperingati bercocok tanam, tetapi juga masalah tanah dan hak rakyat,” katanya.

Don juga menekankan agar organisasi petani tidak dibangun hanya untuk mendapatkan bantuan pemerintah.

Ia meminta pengurus Tani Merdeka justru berperan membantu pemerintah dan mendampingi petani dalam mengakses berbagai program.

“Organisasi ini bukan menunggu bantuan. Kita bekerja membantu pemerintah. Itu tugas kita,” tegasnya.

Ia mencontohkan pendampingan petani yang mengalami kesulitan dalam pengurusan RDKK untuk penebusan pupuk maupun masyarakat yang menghadapi persoalan lahan.

Don juga mengingatkan agar bantuan pemerintah tidak diperjualbelikan atau dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.

Menurutnya, organisasi petani harus memastikan program pemerintah benar-benar diterima dan dimanfaatkan oleh kelompok tani.

Dalam pidatonya, Don juga menyinggung peluang program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam menyerap hasil pertanian dan peternakan lokal.

Ia berpandangan program tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga dapat menjadi salah satu jalur penyerapan hasil produksi petani apabila bahan pangan untuk dapur MBG diperoleh dari daerah sekitar.

“Program makan siang gratis ini bukan hanya untuk kebutuhan gizi, tetapi juga dapat menyerap hasil panen petani, hasil panen peternak dan hasil perkebunan,” ujarnya.

Karena itu, Don meminta jajaran Tani Merdeka di daerah ikut memantau dan membangun jaringan antara kelompok tani dengan dapur MBG.

Ia bahkan meminta pengurus memastikan kelompok tani yang belum memiliki akses pasar dapat dibina agar mampu memasok kebutuhan program tersebut.

“Jangan hanya menjadi acara seremonial. Tolong dibina kelompok tani yang tidak ada jaringan ke MBG. Jadi betul-betul Tani Merdeka ini ada di tengah-tengah petani,” katanya.

Selain MBG, Don juga mendorong pemanfaatan lahan yang belum produktif untuk komoditas yang memiliki pasar.

Ia menyebut singkong sebagai salah satu komoditas yang dapat dikembangkan karena memiliki peluang untuk diolah menjadi produk turunan seperti tepung.

Menurut Don, pengembangan komoditas pertanian harus dibarengi dengan kepastian penyerapan agar petani tidak kembali menghadapi persoalan harga ketika panen.

Ia menilai penguatan rantai pasok dari petani hingga industri menjadi penting untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian.

Peringatan Hari Tani Nasional 2026 di Lebak tersebut turut dihadiri Bupati Lebak Moch Hasbi Asyidiki Jayabaya, jajaran Tani Merdeka Indonesia, unsur Forkopimda, organisasi masyarakat, petani, pemuda, mahasiswa, serta sejumlah tamu undangan.

Bagi Tani Merdeka, momentum Hari Tani Nasional tahun ini diharapkan tidak berhenti pada perayaan. Persoalan harga panen, akses pasar, produktivitas lahan, modal, irigasi, pupuk, hingga konflik agraria menjadi pekerjaan yang perlu dikawal secara berkelanjutan. (*)

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi