Diduga Ditampar Guru Saat Konflik Antarsiswa, Orang Tua Siswa SD Bojong Leles: Kami Tidak Terima

Yayat - JuaraMedia
21 Sep 2026 20:45
Pendidikan 0 20
3 menit membaca

Caption : Ilustrasi

JUARAMEDIA, LEBAK – Dugaan penamparan terhadap seorang siswa kelas III SDN Bojong Leles 2 saat menangani konflik antarsiswa menuai keberatan dari orang tua korban.

Gusti, yang disebut terlibat perselisihan dengan siswa lain saat jam istirahat, diduga mendapat tindakan fisik dari seorang guru, hingga keluarganya menegaskan, “Kami tidak terima.”

Orang tua Gusti, Yatna, mengatakan persoalan bermula saat terjadi perselisihan antara Gusti dengan siswa lain ketika jam bermain di lingkungan sekolah.

Menurut keterangan keluarga, Gusti sempat berusaha menghindari pertengkaran dan melerai situasi. Namun, perselisihan kembali terjadi hingga Gusti disebut didorong oleh siswa lain.

Gusti kemudian disebut melakukan gerakan refleks untuk menepis hingga siswa yang berselisih dengannya terjatuh.

Persoalan kemudian berkembang setelah seorang guru yang oleh keluarga disebut bernama Sarah, yang disebut sebagai guru PPPK di SDN Bojong Leles 2, mendatangi Gusti.

Keluarga menduga terjadi tindakan fisik terhadap Gusti. Menurut Yatna, dugaan tersebut juga diketahui oleh sejumlah siswa yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Yatna mengaku prihatin dengan kondisi anaknya setelah kejadian. Ia mengatakan jajanan yang sedang dipegang Gusti bahkan disebut sampai terjatuh.

“Anak kami mengalami trauma. Kalau anak melakukan kesalahan, silakan ditegur, dinasihati atau dibina. Tetapi kalau sampai digampar atau dipukul, kami tidak bisa menerima,” ujar Yatna melalui voice note, Senin (21/9/2026)

Yatna menegaskan, pihak keluarga tidak bermaksud membenarkan apabila Gusti melakukan kesalahan dalam perselisihan tersebut.

Menurutnya, anak yang melakukan kesalahan tetap harus mendapatkan pembinaan. Namun, pembinaan terhadap siswa sekolah dasar semestinya dilakukan melalui pendekatan edukatif dan sesuai aturan yang berlaku.

“Kami terbuka kalau anak kami ditegur, dimarahi, dinasihati atau diberikan pembinaan. Namanya juga anak-anak. Tetapi kalau sampai tindakan fisik seperti ditampar, kami tidak terima,” tegasnya.

Ia mempertanyakan mengapa persoalan yang bermula dari perselisihan antarsiswa justru berkembang menjadi dugaan tindakan fisik terhadap seorang siswa.

Bagi keluarga, persoalan tersebut bukan hanya mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah dalam perselisihan antarsiswa, tetapi juga menyangkut bagaimana seorang tenaga pendidik menangani konflik ketika berhadapan dengan anak usia sekolah dasar.

Keluarga Gusti juga menyoroti penanganan persoalan setelah kejadian. Yatna mengaku mempertanyakan sikap guru yang bersangkutan terkait dugaan tindakan tersebut.

Ia juga menyebut adanya keterangan dari sejumlah siswa yang menurut keluarga mengetahui atau menyaksikan peristiwa itu.

Karena itu, keluarga meminta pihak sekolah tidak hanya mendengarkan keterangan dari satu pihak.

“Jangan hanya mendengar satu pihak. Kami ingin semuanya diperiksa dan didengar supaya jelas apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.

Menurut keluarga, pemeriksaan perlu melibatkan guru yang berada di lokasi, siswa yang terlibat perselisihan, siswa yang menyaksikan kejadian, orang tua, serta pihak sekolah.

Langkah tersebut dinilai penting agar persoalan tidak berhenti pada saling bantah antara keluarga dan pihak sekolah.

Sementara itu, Kepala SDN Bojong Leles 2, Juhaeni, saat dikonfirmasi JUARAMEDIA mengaku belum mengetahui secara lengkap mengenai dugaan kejadian tersebut.

Juhaeni mengatakan dirinya sedang berada di luar sekolah untuk mengikuti kegiatan ketika dikonfirmasi.

“ Saya juga sedang mengikuti kegiatan di luar. Saya belum tahu, mohon maaf. Insyaallah besok saya cek kebenarannya,” ujar Juhaeni melalui pesan singkat.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf karena belum dapat memberikan penjelasan lebih jauh mengenai persoalan tersebut.

“Hapunten pisan (maaf) , ya Bapak,” katanya.

Dengan demikian, pihak sekolah melalui kepala sekolah belum memberikan penjelasan substantif mengenai kronologi maupun kebenaran dugaan tindakan fisik terhadap Gusti.

Keluarga Gusti menyatakan akan membawa persoalan tersebut kepada Dinas Pendidikan setempat.

Mereka meminta dugaan tindakan kekerasan terhadap Gusti diperiksa secara objektif. Pemeriksaan diharapkan tidak hanya menyangkut dugaan tindakan fisik, tetapi juga menelusuri kronologi awal perselisihan antarsiswa serta langkah penanganan yang dilakukan pihak sekolah.

Keluarga juga meminta adanya jaminan agar Gusti tetap dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam suasana yang aman dan nyaman.

“Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan ramah bagi anak untuk belajar dan tumbuh, bukan tempat yang membuat anak takut,” tegas. (*)

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi