Korban Jiwa Tersengat Listrik di Tambang Ilegal Cibobos, PLN dan Perhutani Saling Lempar, Ketua FWS: Bungkam Itu Bukan Netral, Itu Kejahatan!

admin
2 Agu 2025 17:22
3 menit membaca

Korban Jiwa Tersengat Listrik di Tambang Ilegal Cibobos, PLN dan Perhutani Saling Lempar, Ketua FWS: Bungkam Itu Bukan Netral, Itu Kejahatan!

 

JUARAMEDIA, LEBAK – Korban jiwa di tambang batu bara ilegal di Cibobos, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, jadi bukti keras betapa bobroknya sistem pengawasan dan transparansi sejumlah institusi negara. Uci, warga Desa Cidahu, tewas tersengat aliran listrik di lubang tambang diduga ilegal milik seseorang bernama Uming, Kamis 31 Juli 2025 pukul 09.30 WIB. Ironisnya pihak PLN dan Perhutani Bungkam.

Awak Media mencoba menelusuri aliran listrik yang diduga dipasok langsung oleh PLN. Tapi yang terjadi, justru drama saling lempar tanggung jawab antarlembaga. Dari UP3 Banten ke UID Banten, dari petugas lapangan ke satpam kantor. Tak ada satu pun pejabat berani bicara jujur di ruang terbuka.

 “Kami hanya sampai Polres, silakan ke UID,” kata Ikbar Nugraha dari UP3 Banten.

“Itu wilayah Lebak, tanyakan ke UP3,” timpal pesan manajemen UID Banten yang disampaikan lewat satpam bernama Herman.

Ketua Umum Forum Wartawan Solid (FWS) dan JMSI Lebak, Aji Rosyad, dengan lantang mengecam sikap pengecut PLN dan Perhutani.

 “Jangan pernah ajari kami soal keberimbangan berita kalau kalian sendiri sembunyi dari tanggung jawab! Apa kami harus tunggu berapa banyak korban lagi untuk dapat satu kalimat jujur dari PLN?” tegas Aji di Rangkasbitung, Sabtu (2/8/2025)

Ia menyebut, ini bukan sekadar pelanggaran prosedur. Ini dugaan kejahatan sistematis yang merugikan negara, mencemari lingkungan, dan merenggut nyawa manusia.

 “Kalau benar listrik negara dipakai untuk menopang tambang ilegal, itu kejahatan. Hukumannya berat. Dendanya bisa tembus Rp100 miliar. Tapi yang kalian lakukan? Diam seribu bahasa!” katanya tajam.

Aji Rosyad menyoroti upaya pembungkaman informasi yang dialami para jurnalis. Ia menyebut sudah banyak wartawan ditolak, dibenturkan dengan birokrasi yang dibuat rumit, bahkan dilabeli “tidak berimbang” hanya karena menulis fakta.

“Jangan lagi gunakan dalih berita tak berimbang. Kalian itu yang menghindar, kalian yang menutup akses! Kalau berita kami keras, itu karena kami melawan kesewenang-wenangan. Wartawan itu pembela kebenaran, bukan pemoles pencitraan,” katanya lantang.

Aji juga memuji media yang tetap berdiri di garis kebenaran:

“Saya salut  semua media yang  tetap menyuarakan publik meski tekanan datang dari segala arah.” katanya.

Tak berhenti di Lebak, Aji menegaskan langkah lebih besar sedang disiapkan. Ia sudah berkoordinasi dengan jaringan wartawan dan aktivis nasional.

 “Saya akan ke Jakarta, ke Kementerian, ke Mabes Polri. Ini akan kami angkat ke tingkat nasional. Listrik negara tak bisa jadi bensin tambang ilegal, apalagi sampai makan korban!” ujarnya.

 “Kalau aparat di daerah tidak sanggup menindak, kami desak pusat. Kami tidak main-main. Ini masalah hukum, nyawa, dan kerusakan lingkungan. Kalau institusi terus tutup mulut, rakyat akan buka suara lebih keras!” pungkas Sod sapaan akrab Aji Rosyad ini. (jm)