Guru Besar Unsera Dorong Solusi Krisis Sampah: Libatkan Ulama dan Sekolah, Bangun Kesadaran dari Rumah

Yayat - JuaraMedia
13 Agu 2026 14:31
Daerah 0 46
3 menit membaca

Caption : Guru Besar Unsera , Prof. Dr. Delly Maulana, MPA,

JUARAMEDIA, SERANG,  – Krisis sampah di Indonesia dinilai tidak cukup diselesaikan hanya dengan menambah fasilitas pengelolaan dan memperketat aturan. Guru Besar Kebijakan Lingkungan Universitas Serang Raya (Unsera), Prof. Dr. Delly Maulana, MPA, mendorong pendekatan yang lebih mendasar melalui nilai spiritual, pendidikan karakter, dan perubahan perilaku masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikan Prof. Delly di tengah persoalan sampah yang semakin kompleks. Ia menyoroti data pengelolaan sampah di Indonesia yang mencapai 27,74 juta ton pada 2024. Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan perubahan kesadaran dari tingkat rumah tangga.

Prof. Delly mengutip laporan What a Waste 3.0 Bank Dunia yang memproyeksikan volume sampah global dapat mencapai 3,86 miliar ton pada 2050 apabila tidak terjadi pembenahan sistem pengelolaan sampah secara serius.

Sementara itu, berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), sisa makanan masih menjadi komponen sampah terbesar dengan kisaran 39–40 persen. Di sisi lain, proporsi sampah plastik juga menunjukkan tren peningkatan, dari 15,88 persen pada 2019 menjadi 19,65 persen pada 2024.

“Penanganan sampah memiliki nilai strategis dalam agenda SDGs nomor 12. Namun, pendekatan top-down selama ini terbukti kurang efektif karena kurangnya partisipasi aktif masyarakat,” ujar Prof. Delly dalam tulisannya, Kamis (13/8/2026).

Menurut Prof. Delly, pemerintah perlu menggandeng tokoh agama dan ulama sebagai bagian dari strategi membangun kesadaran lingkungan. Pendekatan spiritual dinilai dapat memperkuat motivasi intrinsik masyarakat agar pengelolaan sampah tidak sekadar dilakukan karena takut terhadap sanksi.

Ia menilai nilai-nilai keagamaan, termasuk ajaran Islam mengenai kebersihan dan larangan merusak lingkungan, dapat menjadi instrumen edukasi yang kuat di tengah masyarakat.

“Masyarakat perlu merasa bahwa mengelola sampah adalah bentuk ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ini akan membangkitkan motivasi intrinsik, sehingga kebijakan tidak berjalan sebelah tangan,” jelasnya.

Pendekatan tersebut, kata dia, perlu berjalan beriringan dengan kebijakan pemerintah sehingga kepatuhan masyarakat tidak hanya bergantung pada pengawasan dan penindakan.

Selain melibatkan ulama, Prof. Delly mendorong pemerintah memperkuat pendidikan lingkungan di sekolah, mulai dari jenjang PAUD hingga perguruan tinggi.

Menurutnya, prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan kebiasaan memilah sampah harus dikenalkan sejak dini. Pendidikan tersebut diharapkan tidak berhenti pada teori, tetapi diterapkan melalui kebiasaan sehari-hari di lingkungan sekolah maupun rumah.

“Pendidikan lingkungan juga harus dilakukan secara informal di tingkat RT, RW, hingga kecamatan. Masyarakat harus paham dampak nyata jika mereka abai terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan,” katanya.

Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter peduli lingkungan.

Prof. Delly juga mendorong pemerintah merumuskan kebijakan pengelolaan sampah yang dimulai dari level rumah tangga. Menurutnya, sumber persoalan harus ditangani sejak masyarakat menghasilkan sampah.

Kebijakan tersebut, lanjut dia, perlu dilengkapi dengan mekanisme sanksi bagi masyarakat yang melanggar sekaligus insentif bagi warga yang konsisten melakukan pemilahan sampah.

Model tersebut diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara edukasi, kesadaran, penghargaan dan penegakan aturan.

“Dengan kombinasi nilai spiritual, pendidikan karakter, dan regulasi yang tegas, kita harap kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dapat terwujud secara konsisten,” pungkas Prof. Delly. (*budi)

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi