
Caption : Bupati Pandeglang Dewi Setiani Setiani Ketika Memberikan Sambutan Pada Acara Konferkab PWI
JUARAMEDIA, PANDEGLANG – Bupati Pandeglang Dewi Setiani mendorong Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pandeglang memperkuat solidaritas dan profesionalisme organisasi di tengah dinamika pers yang terus berkembang.
Pesan tersebut disampaikan Dewi saat memberikan sambutan pada Konferensi PWI Kabupaten Pandeglang di Gedung PKPRI, Jumat (28/8/2026).

Dewi menilai konferensi PWI tidak semestinya hanya menjadi forum untuk memilih ketua baru. Lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi titik awal transformasi organisasi agar semakin solid, profesional, kreatif, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
“Konferensi ini tidak hanya menjadi forum untuk memilih seorang ketua, tapi juga momentum melakukan transformasi PWI Pandeglang menuju organisasi yang semakin solid, maju, dan penuh kreativitas,” ujar Dewi.
Ia berharap hasil konferensi mampu melahirkan gagasan-gagasan baru serta inovasi yang dapat memperkuat peran PWI Pandeglang ke depan.
Dewi juga memberikan pesan khusus kepada siapa pun yang nantinya mendapat amanah memimpin PWI Kabupaten Pandeglang.
Menurutnya, ketua terpilih harus mampu menjadi pemimpin seluruh anggota dan tidak hanya merepresentasikan kelompok atau pihak tertentu.
“Siapapun nanti yang akan mendapatkan amanah ini, kami berharap agar menjadi ketua untuk semua, bukan hanya untuk kelompok,” katanya.
Ia menilai perbedaan pilihan dalam proses demokrasi merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut jangan sampai mengganggu persatuan dan soliditas organisasi.
Karena itu, Dewi meminta seluruh peserta konferensi dapat menjalankan proses pemilihan secara dewasa, demokratis, dan sportif.
Dalam sambutannya, Dewi menyampaikan sejumlah hal yang perlu diperkuat PWI Pandeglang.
Pertama, solidaritas organisasi. Perbedaan pilihan dalam konferensi harus dipandang sebagai bagian dari dinamika demokrasi, bukan alasan untuk memecah persatuan.
“Kita harus memperkuat solidaritas. Jadikan perbedaan pilihan sebagai dinamika demokrasi dalam persatuan dan kesatuan di antara kita,” tegasnya.
Kedua, profesionalisme wartawan. Dewi meminta wartawan terus meningkatkan kompetensi, memahami dan menjalankan kode etik jurnalistik, mengikuti sertifikasi, serta mengedepankan kualitas dalam setiap produk jurnalistik.
“Wartawan harus terus meningkatkan kompetensinya, memahami kode etik dan juga melakukan sertifikasi serta mengedepankan kualitas,” ujarnya.
Ketiga, literasi digital. Menurut Dewi, perkembangan media digital menuntut insan pers untuk semakin adaptif sekaligus mampu memanfaatkan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab.
Dewi juga menekankan pentingnya kemitraan strategis antara pemerintah daerah dan insan pers.
Menurutnya, pers memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi mengenai program dan capaian pembangunan pemerintah daerah secara objektif kepada masyarakat.
Namun, Dewi berharap pemberitaan tidak hanya berorientasi pada pencarian kesalahan, tetapi juga mampu memberikan perspektif, solusi, dan inspirasi.
“Kami ingin berita membangun dan kritik yang membangun. Jadi bukan hanya sekadar mencari yang salah, tapi menawarkan perspektif, solusi dan juga inspirasi,” katanya.
Ia menegaskan kritik yang sehat tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang memalukan pemerintah. Justru, kritik yang konstruktif dapat menjadi bagian dari evaluasi untuk memperbaiki penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.
“Kami percaya kritik yang sehat tidak memalukan pemerintah,” ujarnya.
Selain memperkuat profesionalisme wartawan yang sudah aktif, Dewi juga mendorong adanya regenerasi insan pers di Pandeglang.
Salah satu upaya yang disorot adalah pelatihan jurnalistik bagi pelajar dan mahasiswa. Program tersebut dinilai penting untuk membangun generasi muda yang cerdas dalam menggunakan dan memahami media.
Dewi berharap pendidikan jurnalistik dapat menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi penerus pers di Kabupaten Pandeglang.
Di sisi lain, ia juga mendorong pemberian penghargaan kepada berbagai pihak yang menghadirkan inovasi terbaik bagi daerah, mulai dari instansi pemerintah, organisasi perangkat daerah, desa, sekolah, komunitas hingga masyarakat.
Menutup pesannya, Dewi kembali mengingatkan agar kompetisi dalam Konferensi PWI Pandeglang tidak meninggalkan persoalan baru di internal organisasi.
Ia meminta seluruh peserta menerima hasil keputusan secara dewasa dan memberikan dukungan kepada siapa pun yang nantinya terpilih sebagai ketua.
“Laksanakan kompetisi ini dengan demokratis, dewasa dalam berbeda, sportif dalam berkompetisi dan siap setelah keputusan ditetapkan,” pesannya.
Menurut Dewi, setelah proses pemilihan selesai, seluruh anggota harus kembali menjadi satu keluarga besar pers.
“Yang ada adalah satu pemenang, satu keluarga besar pers dan satu semangat untuk pers,” tegasnya.
Dewi pun mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama mendukung ketua terpilih demi kemajuan organisasi dan pers di Kabupaten Pandeglang.
“Siapapun yang terpilih, mari kita dukung bersama karena kita mau mengibarkan bersama kemajuan pers dan juga kemajuan untuk kita semua,” pungkasnya.
Diketahui, Kofrensi PWI Kabupaten Pandeglang diikuti oleh 20 peserta yang mempunyai hak pilih, dengak dua kandidat, yaitu Ari Supriyadi dan Asep Mujahidin. Konferkab ini dibuka oleh anggota DPR RI Rizky Natakusuma. (*budi)