Akademisi Taufiqurokhman Sentil Wartawan: Jangan Merasa Hebat, PWI Harus Satu Kata dan Tetap Kritis

Yayat - JuaraMedia
28 Agu 2026 17:16
4 menit membaca

Caption :Akademisi Taufiqurokhman Ketika Meberikan Sambutan Pada Konferkab PWI Pandeglang

JUARAMEDIA, PANDEGLANG – Akademisi Prof. Dr. Taufiqurokhman mengingatkan insan pers agar tidak terjebak pada kedekatan dengan kekuasaan. Menurutnya, wartawan harus tetap berpijak pada aturan, menjaga profesionalisme, serta mampu membaca perubahan zaman dan perkembangan teknologi digital.

Pesan tersebut disampaikan Taufiqurokhman saat memberikan sambutan dalam Konferensi Kabupaten (Konferkab) PWI Pandeglang yang digelar di Gedung PKPRI Pandeglang, Jumat (28/8/2026).

Dalam kesempatan itu, Taufiqurokhman juga menyoroti dinamika organisasi dan politik yang menurutnya merupakan bagian dari proses demokrasi. Namun, ia menegaskan bahwa perbedaan pilihan tidak boleh membuat organisasi terpecah.

“Kalau tadi saya bicara kandidat ada lima, ada dua, ada tiga, tapi PWI Pandeglang harus satu kata,” ujar Taufikrahman di hadapan peserta Konferkab.

Ia menilai, setelah proses demokrasi dalam organisasi berlangsung, seluruh pihak harus kembali mengedepankan kepentingan bersama.

Menurutnya, keterbukaan dan transparansi menjadi salah satu kunci agar organisasi dapat berkembang dan dipercaya publik.

“Ini bukan ngomong intern, ini bicara demokrasi. Dari dulu saya selalu menjunjung demokrasi,” kata anggota DPR RI Priode 2009-2014 ini

Taufiqurokhman kemudian memberikan peringatan yang lebih keras kepada insan pers mengenai relasi dengan pejabat dan pemangku kepentingan.

Ia mengatakan, wartawan boleh saja memiliki akses dan mengenal pejabat, mulai dari tingkat presiden, menteri, gubernur hingga bupati dan wali kota. Namun, kedekatan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan prosedur dan aturan.

“Boleh Bapak dan Ibu kenal siapapun pejabatnya dari presiden sampai menteri, sampai gubernur dan bupati, wali kota. Tapi akselerasi pembangunan ini harus sesuai dengan SOP yang ada,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa ketika prosedur dan aturan diabaikan, kedekatan dengan kekuasaan justru dapat menjadi persoalan di kemudian hari.

“Karena kalau tidak, kapan pun kartu kita dibuka, itu akan nama yang disebut dengan korupsi,” ujarnya.

Pesan tersebut dinilai penting bagi insan pers karena wartawan memiliki posisi strategis dalam mengawasi jalannya pemerintahan sekaligus menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Taufiqurokhman juga mengingatkan wartawan agar tidak merasa memiliki posisi istimewa hanya karena memiliki akses terhadap pemberitaan.

Menurutnya, wartawan tetap merupakan individu yang memiliki kepentingan, karakter dan sikap pribadi. Karena itu, profesionalisme dan independensi harus menjadi landasan utama dalam menjalankan tugas jurnalistik.

“Jangan merasa hebat,” katanya.

Ia menekankan bahwa perkembangan media sosial telah mengubah pola komunikasi publik. Saat ini, masyarakat maupun pejabat memiliki saluran komunikasi sendiri untuk menyampaikan informasi dan membangun citra.

Kondisi tersebut, kata dia, harus dibaca oleh insan pers sebagai tantangan sekaligus peluang.

Taufiqurokhman juga mendorong PWI dan para wartawan untuk tidak hanya mengandalkan pola pemberitaan konvensional.

Menurutnya, website, email, nomor telepon seluler, media sosial hingga podcast kini menjadi bagian penting dalam strategi komunikasi dan pemasaran digital.

“Berbasis website penting, berbasis email penting, tapi berbasis nomor handphone dan itu adalah real digital marketing,” ujarnya.

Ia juga menyinggung semakin banyaknya kepala daerah maupun pejabat publik yang kini memiliki tim komunikasi dan podcast sendiri.

Karena itu, wartawan dituntut lebih adaptif agar tidak tertinggal dalam perubahan ekosistem media.

“Jadi Bapak dan Ibu jangan merasa ini pas sekarang. Justru harus lebih aktif lagi,” katanya.

Menurut Taufiqurokhman, transformasi digital tidak berarti meninggalkan prinsip jurnalistik. Sebaliknya, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan informasi yang berkualitas.

Di tengah dinamika pemilihan kepemimpinan organisasi, Taufikrahman berharap PWI Pandeglang mampu menjaga soliditas.

Ia menilai perbedaan pilihan dalam demokrasi merupakan hal yang wajar. Namun setelah proses pemilihan selesai, seluruh pihak harus kembali bersatu membangun organisasi.

“Siapa yang kuat komitmennya, dialah yang paling bagus,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan organisasi bukan semata-mata siapa yang berada di posisi kepemimpinan, melainkan seberapa kuat komitmen seluruh anggotanya dalam menjaga marwah organisasi dan menjalankan tugas secara profesional.

Di akhir sambutannya, Taufiqurokhman kembali menekankan pentingnya membangun pers yang berkualitas dan bermartabat.

Menurutnya, pers harus mampu menjadi bagian penting dalam pembangunan dengan tetap kritis, independen, berpegang pada aturan, serta menghadirkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

“Bagaimana bersama membangun pers dengan informasi berkualitas dan bermartabat,” pungkasnya.

Diketahui , pada Konferkab PWI Kabupaten Pandeglang ini ,yang dibuka oleh Anggota DPR RI Rizky Dimiyati Natakusuma ini, Asep Mujahidin  terpilih sebagai Ketua . Hadir Bupati Pandeglang, Ketua DPRD Pandeglang, Kapolres Pandeglang Kepala OPD di lingkungan Pemkab Pandeglang, Ketua SMSI Indonesia (Firdaus) dan undangan lainnya. (*)

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi