DLH Lebak Dorong Perluasan Sekolah Adiwiyata, Kesadaran Lingkungan Masih Jadi Tantangan

Yayat - JuaraMedia
7 Agu 2026 12:18
3 menit membaca

Caption : SMPN 6 Rangkasbitung, salah aatu sekolab Adiwiyata

JUARAMEDIA, LEBAK – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lebak terus mendorong perluasan Program Sekolah Adiwiyata sebagai upaya membangun budaya peduli lingkungan sejak dini. Namun, di balik upaya tersebut, peningkatan kesadaran seluruh warga sekolah masih menjadi tantangan utama. Dari total 1.375 sekolah negeri dan swasta di Kabupaten Lebak, hingga 2025 baru 38 sekolah yang berhasil meraih predikat Adiwiyata.

Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lebak, Eric Kusuma, mengatakan Program Adiwiyata merupakan salah satu strategi pemerintah dalam menanamkan nilai-nilai pelestarian lingkungan kepada peserta didik melalui dunia pendidikan.

Menurutnya, sekolah memiliki peran penting, tidak hanya sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter yang peduli terhadap lingkungan.

“Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga menjadi wahana pembentukan karakter. Kami ingin sekolah menjadi tempat yang nyaman dan kondusif bagi seluruh warga sekolah maupun masyarakat sekitar,” ujar Eric Kusuma melalui keterangan WhatsApp, Jumat (7/8/2026).

Program Adiwiyata yang telah berjalan sejak 2006 merupakan implementasi kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Melalui program ini, sekolah didorong mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam kebijakan sekolah, proses pembelajaran, serta berbagai aktivitas keseharian.

Hingga tahun 2025, jumlah sekolah yang berhasil meraih predikat Adiwiyata di Kabupaten Lebak masih relatif sedikit dibandingkan dengan jumlah sekolah yang ada. Dari 38 sekolah tersebut, sebanyak 18 sekolah meraih Adiwiyata tingkat kabupaten, 18 sekolah tingkat provinsi, dan dua sekolah tingkat nasional.

Eric mengungkapkan, antusiasme sekolah untuk mengikuti Program Adiwiyata sebenarnya cukup tinggi. Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala yang memerlukan perhatian bersama.

“Tantangan utamanya adalah peningkatan kesadaran seluruh warga sekolah, keterbatasan sarana dan prasarana, serta kebutuhan pendampingan secara berkelanjutan agar budaya peduli lingkungan dapat tumbuh secara konsisten,” jelasnya.

Sebagai langkah percepatan, DLH Kabupaten Lebak terus melakukan pendampingan kepada sekolah-sekolah calon Adiwiyata. Berbagai inovasi juga dikembangkan, mulai dari penyusunan kebijakan sekolah berwawasan lingkungan, integrasi materi konservasi ke dalam kurikulum, hingga penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) dalam pengelolaan sampah.

Di tingkat sekolah, implementasi program diwujudkan melalui berbagai kegiatan nyata seperti penghijauan dan penanaman pohon, konservasi air, penghematan energi, pengelolaan bank sampah, pembuatan kompos, serta aksi bersih lingkungan yang melibatkan seluruh warga sekolah.

Menurut Eric, keberhasilan Program Adiwiyata sangat bergantung pada kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah daerah, sekolah, orang tua, masyarakat, hingga dunia usaha memiliki peran penting dalam membangun budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan.

Ia menilai program tersebut telah memberikan dampak positif terhadap terciptanya lingkungan sekolah yang lebih bersih, sehat, hijau, dan nyaman. Selain itu, peserta didik juga mulai terbiasa menerapkan sikap disiplin, bertanggung jawab, dan bergotong royong dalam menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan.

“Harapan kami, pembiasaan yang dilakukan di sekolah dapat terbawa hingga ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Ke depan, kami ingin semakin banyak sekolah di Kabupaten Lebak yang meraih predikat Adiwiyata sehingga mampu mendukung terwujudnya Lebak yang hijau, lestari, dan berdaya saing,” pungkas Eric.(budi)

 

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi