Kadis Pertanian Luruskan Data Kekeringan, 14 Hektare Sawah yang Sempat Puso Kini Produktif Lagi

Yayat - JuaraMedia
22 Jul 2026 13:49
Daerah 0 33
3 menit membaca

Caption : Rahmat Yuniar, Kadis Pertanian Lebak tengah memantau perkembangan tanaman padi

JUARAMEDIA,LEBAK – Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, meluruskan informasi mengenai lahan pertanian yang sempat dilaporkan berstatus puso (gagal panen) akibat kekeringan. Dari total 294 hektare sawah yang terdampak kekeringan di 16 kecamatan, lahan seluas 14 hektare yang sebelumnya masuk kategori puso dipastikan telah kembali produktif setelah memperoleh pasokan air dan dilakukan verifikasi data di lapangan.

Pemerintah Kabupaten Lebak kini memfokuskan langkah antisipasi melalui pendataan sawah tadah hujan sebagai dasar pembangunan sumur bor pada 2027 guna mencegah dampak kekeringan berulang.

Rahmat Yuniar menjelaskan, data awal yang beredar memang mencatat 294 hektare lahan pertanian mengalami kekeringan akibat minimnya curah hujan selama dua bulan terakhir. Namun, setelah dilakukan pengecekan ulang, status puso terhadap 14 hektare lahan tersebut telah dicabut karena kondisinya sudah kembali normal.

“Alhamdulillah, angka 14 hektare yang sempat muncul sebagai kategori puso itu sudah dipulihkan. Lahan-lahan tersebut kembali produktif karena sudah terairi, baik melalui bantuan pompa maupun karena petani sudah melakukan panen,” ujar Rahmat kepada wartawan, Selasa (21/7/2026).

Ia menegaskan, hingga saat ini tidak ada lagi lahan pertanian di Kabupaten Lebak yang masuk kategori puso. Menurutnya, munculnya data tersebut disebabkan adanya kekeliruan dalam pembacaan laporan awal di lapangan.

“Setelah diklarifikasi, ternyata tidak ada lagi yang masuk kategori puso. Itu murni kesalahan pembacaan data pada tahap awal pelaporan,” katanya.

Meski demikian, Rahmat mengakui kekeringan masih melanda ratusan hektare sawah di sejumlah wilayah. Dari total 294 hektare lahan yang terdampak, sekitar 227 hektare berada di Kecamatan Rangkasbitung dan 49 hektare di Kecamatan Kalanganyar. Sementara wilayah lain yang turut terdampak antara lain Cibadak, Cipanas, Muncang, Warunggunung, Maja, dan Curugbitung.

Menurutnya, wilayah-wilayah tersebut didominasi sawah tadah hujan atau yang dikenal masyarakat sebagai sawah guludu, sehingga sangat bergantung pada curah hujan dan rentan mengalami kekeringan saat musim kemarau.

Untuk mengurangi dampak kekeringan, Distan Lebak bersama Kementerian Pertanian telah menyalurkan bantuan pompa air bergerak (mobile) kepada kelompok tani. Selain itu, pemerintah juga sedang membangun 28 titik Irigasi Perpompaan (IRPOM) di sejumlah lokasi strategis agar petani dapat memanfaatkan sumber air dari sungai maupun saluran air terdekat.

Salah satu pembangunan IRPOM dilakukan di Kecamatan Maja, tepatnya di wilayah Gubung Ciberem, sebagai upaya memperkuat pasokan air bagi lahan pertanian saat musim kemarau.

Rahmat mengatakan, Bupati Lebak juga telah menginstruksikan Dinas Pertanian untuk melakukan pendataan menyeluruh terhadap lahan tadah hujan yang belum memiliki akses sumber air permanen. Pendataan tersebut akan menjadi dasar penyusunan program pembangunan sumur bor atau sumur dalam pada 2027.

“Instruksi Pak Bupati jelas, kita harus mendata luasan lahan tadah hujan agar kejadian seperti ini tidak terus berulang. Tahun 2027 direncanakan ada pembangunan sumur bor di titik-titik rawan kekeringan sebagai langkah konkret menjaga ketahanan pangan di Kabupaten Lebak,” tegasnya.

Menurut Rahmat, bantuan pompa air tidak akan maksimal apabila tidak tersedia sumber air. Karena itu, pembangunan sumur bor dinilai sebagai solusi jangka panjang bagi lahan pertanian tadah hujan agar petani tetap dapat bercocok tanam meski memasuki musim kemarau.

Ia berharap berbagai langkah yang ditempuh pemerintah, mulai dari pembangunan irigasi perpompaan hingga penyediaan sumur bor, dapat memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus meminimalkan risiko gagal panen akibat perubahan iklim dan cuaca ekstrem.(budi)

 

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi