Voice Note Wahidin Halim Viral, Kritik Halus Konflik Bupati–Wakil Lebak

Yayat - JuaraMedia
1 Apr 2026 11:56
Politik 0 64
3 menit membaca

Voice Note : Wahidin Halim Gubenur Banten Priode 2017 – 2022

JUARAMEDIA, TANGERANG – Di tengah memanasnya polemik antara Bupati dan Wakil Bupati Lebak, voice note berisi nasihat dari mantan Gubernur Banten, Wahidin Halim, viral di media sosial. Pesan tersebut dinilai sebagai kritik halus namun tajam terkait etika kepemimpinan dan hubungan antarpejabat daerah.

Voice note yang beredar luas itu muncul tak lama setelah insiden dalam acara Halalbihalal Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak pada Senin (30/3/2026) yang memicu sorotan publik.

Dalam rekaman tersebut, Wahidin Halim tidak menyebut pihak tertentu secara langsung.

Namun, arah pesannya dinilai jelas ditujukan kepada kepala daerah di Lebak agar kembali menjaga nilai-nilai moral, etika komunikasi, serta membangun hubungan harmonis dengan wakilnya.

“Bupati dan Wakil Bupati itu penjaga moral, penjaga konstitusi. Oleh karenanya kepala daerah harus menjadi contoh dan teladan bagi nilai-nilai kebaikan serta menjadi pusat perhatian rakyatnya,” ujar Wahidin dalam voice note yang beredar, Rabu (1/4/2026).

Ia juga menekankan pentingnya menjaga adab dan sopan santun dalam setiap komunikasi, baik di ruang publik maupun internal pemerintahan.

“Dalam membangun komunikasi dengan siapapun harus bisa menjaga adab dan sopan santun,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Wahidin mengingatkan bahwa hubungan antara bupati dan wakil bupati harus dibangun secara sinergis, meskipun tidak diatur secara rinci dalam peraturan perundang-undangan.

“Walaupun tidak tersirat di dalam undang-undang, harus mampu membangun sinergisitas,” tegas Gubenur Banten Priode 2017-2022 ini.

Pernyataan tersebut dinilai sebagai bentuk keprihatinan sekaligus upaya meredam ketegangan yang terjadi di internal Pemkab Lebak. Di tengah situasi yang memanas, pendekatan yang digunakan Wahidin Halim dinilai lebih menyejukkan.

Sejumlah pengamat menilai, pesan tersebut bukan sekadar nasihat biasa, melainkan peringatan halus dari tokoh senior kepada pemimpin daerah agar tidak larut dalam konflik yang berpotensi mengganggu jalannya pemerintahan dan pelayanan publik.

Sebelumnya, polemik mencuat dalam acara Halalbihalal Pemkab Lebak. Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, mengaku tersinggung atas pernyataan Bupati Lebak, Hasbi Asyidiki Jayabaya, yang dalam sambutannya menyebut istilah “mantan napi”.

Pernyataan tersebut memicu reaksi emosional dari Wakil Bupati yang merasa tidak dihargai dalam forum resmi pemerintahan.

Buntut dari polemik tersebut, Bupati Lebak, Hasbi Asyidiki Jayabaya, pada Selasa (31/3/2026) dipanggil oleh Gubernur Banten, Andra Soni, untuk dimintai klarifikasi.

Menanggapi polemik itu, Hasbi menjelaskan bahwa pernyataannya bukan bermaksud merendahkan, melainkan sebagai bentuk motivasi kepada masyarakat. Ia menyebut bahwa mantan narapidana juga memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik dan berkontribusi bagi pembangunan daerah.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi lanjutan dari pihak Pemkab Lebak terkait viralnya voice note tersebut. Namun, dinamika hubungan antara Bupati dan Wakil Bupati Lebak masih menjadi perhatian publik.

Viralnya voice note ini menjadi pengingat bahwa publik menaruh harapan besar pada keharmonisan para pemimpin daerah. Di tengah dinamika politik, etika dan komunikasi yang baik dinilai tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan masyarakat. (*)

 

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi