Kemarau Panjang Ancam Ketahanan Pangan, 314 Hektare Lahan Padi di Lebak Terdampak

Yayat - JuaraMedia
3 Agu 2026 20:38
Daerah 0 50
3 menit membaca

Caption : Rahmat Yuniar, Kadis Pertanian

JUARAMEDIA, LEBAK – Musim kemarau panjang mulai mengancam ketahanan pangan di Kabupaten Lebak. Sebanyak 314 hektare lahan padi dilaporkan terdampak kekeringan dengan tingkat kerusakan ringan hingga berat, sementara Kecamatan Kalanganyar menjadi wilayah yang mengalami dampak paling parah. Kondisi tersebut mendorong Dinas Pertanian Kabupaten Lebak mempercepat berbagai langkah penanganan, mulai dari panen dini, pompanisasi, hingga pemantauan intensif guna menekan risiko gagal panen dan menjaga produksi beras di daerah.

Berdasarkan data Balai Perlindungan dan  Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Banten periode 16–31 Juli 2026, kerusakan lahan akibat kekeringan terjadi di sejumlah sentra pertanian di Kabupaten Lebak. Dari total luas tanam yang dipantau mencapai 824 hektare di 28 kecamatan, sekitar 38 persen di antaranya telah terdampak krisis air.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengatakan Kecamatan Kalanganyar menjadi wilayah dengan dampak paling besar. Dari total luas tanam sekitar 427 hektare, akumulasi lahan yang terdampak mencapai 227 hektare.

“Kalanganyar menjadi daerah yang paling terdampak. Untuk mengurangi kerugian petani, kami melakukan percepatan panen atau early harvest pada lahan seluas 43 hektare sebelum tanaman mengalami puso akibat kekurangan air,” ujar Rahmat saat dikonfirmasi, Senin (3/8/2026).

Selain Kalanganyar, dampak kekeringan juga mulai dirasakan di sejumlah kecamatan lainnya. Di Kecamatan Rangkasbitung, tercatat 49 hektare lahan terdampak, terdiri atas 35 hektare mengalami kerusakan ringan dan 14 hektare mengalami kerusakan sedang.

Sementara itu, di Kecamatan Cipanas terdapat tiga hektare lahan yang ditangani melalui program pompanisasi. Sedangkan di Kecamatan Muncang, dua hektare lahan masih mengandalkan curah hujan sebagai sumber pasokan air.

Dinas Pertanian juga menetapkan beberapa wilayah dalam status waspada karena berpotensi mengalami kerusakan lebih berat apabila musim kemarau terus berlangsung. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Cibeber seluas dua hektare, Warunggunung enam hektare, Sajira lima hektare, dan Curugbitung tiga hektare.

Secara keseluruhan, dari total 314 hektare lahan yang terdampak kekeringan, sebanyak 19 hektare mengalami kerusakan ringan, 128 hektare mengalami kerusakan sedang, dan 106 hektare mengalami kerusakan berat.

Rahmat menjelaskan, berbagai upaya mitigasi terus dilakukan pemerintah daerah, mulai dari distribusi pompa air, percepatan panen, hingga monitoring lapangan secara berkala untuk memastikan kondisi tanaman dan ketersediaan sumber air.

“Kami berharap intervensi yang dilakukan dapat menyelamatkan sisa hasil panen petani sehingga dampak kekeringan tidak berkembang menjadi gagal panen yang lebih luas,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Lebak juga mengimbau para petani untuk terus berkoordinasi dengan penyuluh pertanian di wilayah masing-masing agar memperoleh bantuan teknis, informasi pemanfaatan sumber air alternatif, serta langkah-langkah antisipasi selama musim kemarau masih berlangsung.

Jika kondisi cuaca kering terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan, ancaman terhadap produksi padi diperkirakan akan semakin besar. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, penyuluh pertanian, dan petani menjadi kunci untuk menjaga produktivitas lahan sekaligus mempertahankan ketahanan pangan di Kabupaten Lebak. (budi)

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi