Akibat Dampak Virus Corona, 2000 Pelaku UMKM Warga Baduy Gulung Tikar

Redaksi - JuaraMedia
16 Mei 2020 21:31
3 menit membaca

Akibat Dampak Virus Corona, 2000 Pelaku UMKM Warga Baduy Gulung Tikar

 

JUARAMEDIA.COM LEBAK – Akibat dampak Virus Corona atau COVID-19, sebanyak 2.000 pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) masyarakat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak gulung tikar.

“Semua pelaku UMKM warga Baduy sangat terpukul sejak tiga bulan terakhir dengan adanya pandemi Corona itu,” kata Tetua masyarakat Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Jaro Saija saat ditemui dikediamanya di Kampung Kadu Ketug Desa setempat, Minggu (17/05/2020).

Pelaku UMKM di kawasan hak tanah ulayat masyarakat Baduy gulung tikar akibat pandemi COVID-19, sehingga tidak dikunjungi wisatawan.

Kebanyakan wisatawan yang berkunjung ke pemukiman masyarakat Baduy dari Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi.

Namun, daerah itu kini menjadi “zona merah” penyebaran COVID-19 hingga diterapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Kami berharap penyebaran pandemi Corona segera berakhir dan kunjungan wisatawan kembali normal,” ujarnya.

Menurut dia, pelaku UMKM masyarakat Baduy sebanyak 2.000 unit itu di antaranya kerajinan souvenir cinderamata, kain tenun, madu, golok hingga bambu.

Mereka saat ini di kawasan pemukiman Baduy tidak menggelar dagangan aneka kerajinan yang dijual itu, karena tidak adanya pengunjung wisatawan.

Biasanya, pemukiman masyarakat Baduy di Kampung Kadu Ketug di setiap bale-bale rumah mereka ramai menggelar dagangan hasil kerajinan pelaku UMKM tersebut.

“Kami berharap pelaku UMKM yang terdampak COVID-19 mendapat bantuan dari pemerintah sebagai bentuk kompensasi itu,” pintanya.

Kudil (45) seorang pelaku UMKM warga Baduy mengaku bahwa dirinya tidak menjual hasil kerajinan itu, karena tidak ada pembeli selama merebaknya penyebaran COVID-19.

Bahkan, kondisi pemukiman masyarakat Badui sejak tiga bulan terakhir ini tidak ada wisatawan yang berkunjung.

“Kami percuma saja buang-buang modal dan tenaga jika menggelar kerajinan, namun tidak ada pembelinya,” tuturnya.

Begitu juga pelaku UMKM warga Baduy lainnya, Meti (45) mengatakan dirinya kini sudah tidak memproduksi kerajinan kain tenun, karena tidak ada wisatawan yang berkunjung ke pemukiman masyarakat Baduy.

Selama ini, dirinya terpaksa membantu suami di ladang huma untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

“Kami akan kembali memproduksi kain tenun jika sudah berakhir pandemi COVID -19 itu,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Informasi Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Siti Samsiah mengatakan pihaknya kini tengah melakukan pendataan para pelaku UMKM yang terdampak penyebaran wabah pendemi COVID-19.

Karena itu, pemerintah daerah berkomitmen untuk membangun klaster-klaster ekonomi masyarakat melalui pelaku UMKM tetap bertahan, berkembang.

Selama ini, kata dia, kehadiran UMKM sangat membantu pemerintah daerah dalam hal penyerapan lapangan pekerja tenaga lokal.

“Kami saat ini tengah melakukan pendataan pelaku UMKM itu sebanyak 10.000 unit akibat dampak Corona untuk diajukan ke Provinsi Banten,” katanya. (ary/bud)

 

TIM REDAKSI
Author: TIM REDAKSI

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *