
Caption : Beras Lebak Niaga
JUARAMEDIA, LEBAK – PT Lebak Niaga menargetkan seluruh kebutuhan beras yang diproduksi dan dipasarkan perusahaan daerah tersebut berasal dari petani lokal Kabupaten Lebak. Untuk mewujudkan cita-cita itu, BUMD milik Pemerintah Kabupaten Lebak tersebut menyiapkan strategi penguatan kemitraan dengan puluhan kelompok tani dan membutuhkan sedikitnya 2.200 hektare lahan sawah produktif guna menjamin pasokan gabah secara berkelanjutan dari sawah Lebak hingga ke meja makan masyarakat.
Direktur PT Lebak Niaga, Ilham Akbar , mengatakan saat ini pihaknya bersama Dinas Pertanian Kabupaten Lebak tengah melakukan pendataan terhadap 52 kelompok tani mitra yang diproyeksikan menjadi pemasok utama kebutuhan gabah perusahaan.
Menurutnya, dengan luas lahan sawah Kabupaten Lebak yang mencapai sekitar 52 ribu hektare, kebutuhan lahan sebesar 2.200 hektare dinilai sangat memungkinkan untuk memenuhi target pasokan bahan baku beras secara bertahap.
“Kalau dikonversi ke lahan, kurang lebih membutuhkan 2.200 hektare untuk bisa menyuplai bahan baku secara penuh. Saat ini sedang didata oleh Dinas Pertanian bersama 52 kelompok tani mitra,” kata Ilham, di Rangkasbitung,Rabu (17/6/2026).
Ia menjelaskan, saat ini sebagian pasokan gabah untuk kebutuhan produksi masih berasal dari luar Kabupaten Lebak, terutama dari wilayah Pandeglang dan sebagian daerah lainnya di Banten. Namun, pasokan dari petani Lebak tetap menjadi yang dominan.
Menurut Ilham, semakin besar pasokan yang berasal dari petani lokal, semakin efisien biaya produksi yang harus dikeluarkan perusahaan. Sebab, biaya transportasi dan distribusi dapat ditekan sehingga harga jual beras kepada masyarakat menjadi lebih kompetitif.
“Sebelumnya banyak gabah yang didatangkan dari daerah sentra produksi seperti Indramayu dan Karawang. Tentu ada biaya transportasi dan distribusi tambahan. Sekarang kita mulai memangkas biaya tersebut sehingga harga beras bisa lebih terjangkau,” ujarnya.
Meski memiliki target jangka panjang mencapai 100 persen pasokan lokal, Ilham mengakui proses tersebut tidak bisa dilakukan secara instan.
Pada 2027, Lebak Niaga menargetkan minimal 70 hingga 80 persen kebutuhan gabah sudah dapat dipenuhi oleh petani Kabupaten Lebak.
“Kita realistis. Target awal pada 2027 minimal 70 sampai 80 persen pasokan berasal dari Lebak. Setelah itu baru menuju 100 persen,” katanya.
Ia menambahkan, pencapaian target tersebut tidak hanya bergantung pada ketersediaan lahan, tetapi juga dukungan modal kerja, pembinaan petani, serta penguatan sumber daya manusia yang mengelola rantai bisnis pengolahan beras.
Lebak Niaga juga berkomitmen membangun kemitraan jangka panjang dengan petani. Tidak hanya membeli hasil panen, perusahaan daerah itu siap mendampingi petani mulai dari proses budidaya hingga membantu akses permodalan.
Menurut Ilham, pola kemitraan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku bagi perusahaan.
“Kapan pun kami siap mendampingi petani. Yang penting petani sejahtera. Termasuk soal permodalan akan kami bantu, lalu hasil panennya kami beli dengan harga yang bersaing,” jelasnya.
Ia optimistis jika rantai pasok beras dapat dikelola sepenuhnya di daerah, masyarakat akan memperoleh beras dengan kualitas lebih baik dan harga yang lebih terjangkau.
Selain fokus pada sektor pangan, Ilham mengungkapkan Lebak Niaga ke depan diproyeksikan menjadi salah satu motor penggerak investasi dan bisnis strategis milik Pemerintah Kabupaten Lebak.
Salah satu sektor yang mulai dikaji adalah pengelolaan pasar daerah. Menurutnya, pemerintah daerah melalui organisasi perangkat daerah (OPD) sebaiknya berperan sebagai regulator dan pengawas, sementara fungsi operator dijalankan oleh badan usaha yang profesional.
Ia mencontohkan sejumlah daerah besar yang telah berhasil mengembangkan BUMD sebagai pengelola sektor strategis, mulai dari pasar, pangan hingga transportasi publik.
“Ke depan investasi strategis daerah diharapkan melibatkan Lebak Niaga sebagai representasi pemerintah daerah. Regulator dan operator harus dipisahkan agar pengelolaannya lebih profesional,” ujarnya.
Meski mendapat dukungan pemerintah daerah, Ilham menegaskan pihaknya tidak ingin mengandalkan instruksi atau kewajiban pembelian dari aparatur pemerintah maupun lembaga tertentu.
Menurutnya, keberhasilan sebuah perusahaan harus ditentukan oleh kualitas produk yang mampu bersaing di pasar.
“Saya optimistis Lebak Niaga bisa berkembang. Kami tidak ingin bergantung pada instruksi pembelian. Biarkan kualitas produk yang berbicara. Kalau kualitasnya baik, masyarakat akan datang dan membeli dengan sendirinya,” tegasnya.
Ia berharap gerakan mencintai dan membeli produk lokal semakin tumbuh di tengah masyarakat. Dengan begitu, perputaran ekonomi daerah dapat memberikan manfaat langsung bagi petani, pelaku usaha, dan masyarakat Kabupaten Lebak secara keseluruhan. (budi)