Tahfidz Berbayar di MTsN 1 Lebak Jadi Sorotan, Komite Klaim Tidak Ada Unsur Paksaan

Yayat - JuaraMedia
29 Mei 2026 11:09
Pendidikan 0 53
2 menit membaca

Caption: Ilustrasi 

JUARAMEDIA, LEBAK – Polemik program Tahfidz Quran berbayar di MTsN 1 Lebak terus menjadi perhatian publik. Di tengah sorotan terkait iuran sebesar Rp400 ribu per siswa, Ketua Komite MTsN 1 Lebak, H Rahmat, menegaskan bahwa pungutan tersebut bukan bentuk paksaan, melainkan hasil musyawarah bersama wali murid untuk mendukung program unggulan madrasah.

Dalam wawancara melalui sambungan telepon, Jumat (29/5/2026), H Rahmat mengatakan program Tahfidz Quran merupakan program unggulan madrasah yang tidak dibiayai melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

“Kalau untuk kegiatan program unggulan seperti tahfidz itu tidak ada sama sekali di BOS dan tidak tercantum,” kata H Rahmat.

Menurutnya, keberadaan komite hanya menjalankan dan mendukung program yang sudah menjadi kebijakan madrasah. Ia menyebut seluruh keputusan terkait program tahfidz dilakukan melalui mekanisme musyawarah bersama orang tua siswa.

“Kalau tanpa ada program dari madrasah, komite tidak bisa apa-apa. Semua mengikuti program madrasah,” ujarnya.

H Rahmat mengungkapkan mayoritas orang tua siswa justru mendukung keberadaan program Tahfidz Quran karena dianggap menjadi nilai tambah pendidikan berbasis keagamaan di MTsN 1 Lebak.

“Selama ini orang tua antusias. Mereka memasukkan anaknya ke sini memang ingin ikut program unggulan madrasah, di antaranya tahfidz,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui tidak seluruh wali murid mampu membayar iuran program tersebut. Bahkan hingga saat ini masih banyak siswa yang belum melunasi pembayaran.

“Tidak semuanya membayar. Ada yang mampu, ada yang tidak mampu, dan kami tidak memaksa,” ungkapnya.

Ia memperkirakan tingkat pembayaran iuran baru berada di kisaran 60 hingga 65 persen.

“Banyak yang belum bayar sampai hari ini juga,” katanya.

Rahmat menjelaskan dana yang terkumpul digunakan untuk operasional program serta insentif para pengajar tahfidz yang jumlahnya mencapai 24 orang. Namun, hanya tiga di antaranya yang merupakan hafiz Al-Quran.

“Untuk insentif guru-guru tahfidz. Itu pun hanya Rp500 ribu per bulan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, H Rahmat juga mengungkapkan dirinya telah mengajukan pengunduran diri sebagai Ketua Komite MTsN 1 Lebak karena merasa usia dan masa baktinya sudah cukup.

“Saya sudah 63 tahun, sudah pensiun. Saya juga sudah meminta kepada kepala madrasah agar ada pergantian ketua komite,” katanya.

Sebelumnya, program Tahfidz Quran di MTsN 1 Lebak menuai sorotan setelah muncul keluhan terkait adanya pungutan Rp400 ribu per siswa.

Sejumlah pihak mempertanyakan transparansi pengelolaan program tersebut serta penggunaan dana BOS di lingkungan madrasah.

Pihak komite menegaskan program tahfidz tetap berjalan sebagai bagian dari penguatan mutu pendidikan berbasis keagamaan dan dilaksanakan berdasarkan kesepakatan bersama orang tua siswa.(budi)

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi