Sholawat sebagai Cahaya Spiritual di Tengah Tantangan Zaman

Yayat - JuaraMedia
30 Mei 2026 11:16
Opini 0 54
5 menit membaca

Captiion : Majelis Sholawat Dalailul Khoirot Al-Hidayah Bani Karim di Kampung Nanggela, Cipanas, Kabupaten Lebak,

Pengajian sholawat tahunan yang diselenggarakan Majelis Sholawat Dalailul Khoirot Al-Hidayah Bani Karim di Kampung Nanggela, Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten, pada 13 Dzulhijjah 1447 Hijriah menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali makna sholawat dalam kehidupan umat Islam.

Majelis yang telah berlangsung secara turun-temurun sejak tahun 1973 tersebut bukan sekadar agenda rutin keagamaan. Lebih dari itu, kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun, disertai pengajian mingguan dan bulanan, menunjukkan bagaimana tradisi keilmuan dan spiritualitas Islam terus hidup di tengah masyarakat.

Keberlangsungannya selama puluhan tahun menjadi bukti bahwa masyarakat masih membutuhkan ruang-ruang yang dapat memperkuat hubungan mereka dengan Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks, manusia menghadapi berbagai tantangan yang tidak hanya bersifat ekonomi dan sosial, tetapi juga spiritual. Kemajuan teknologi telah memudahkan banyak hal, namun tidak selalu mampu menghadirkan ketenangan hati.

Tidak sedikit orang yang mengalami kegelisahan, kehilangan arah hidup, bahkan mengalami krisis moral dan nilai.Dalam kondisi seperti itulah sholawat memiliki relevansi yang sangat besar. Sholawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bukan sekadar tradisi keagamaan atau amalan pelengkap dalam ibadah.

Sholawat merupakan perintah langsung dari Allah SWT kepada orang-orang beriman sebagai bentuk penghormatan, kecintaan, dan pengagungan kepada Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا

Artinya:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Ayat tersebut memiliki makna yang sangat mendalam. Sebelum Allah memerintahkan manusia untuk bersholawat, Allah terlebih dahulu memberitakan bahwa Dia dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Hal itu menunjukkan betapa tingginya kemuliaan Rasulullah SAW di sisi Allah SWT.

Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa Allah memuji Nabi Muhammad SAW di hadapan para malaikat-Nya, sementara para malaikat mendoakan beliau. Sedangkan dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa sholawat dari Allah merupakan pujian dan rahmat-Nya kepada Nabi Muhammad SAW, sementara sholawat para malaikat adalah doa dan permohonan ampun untuk beliau.

Imam Bukhari meriwayatkan penjelasan dari Abul Aliyah bahwa sholawat Allah kepada Nabi adalah pujian Allah kepada beliau di hadapan para malaikat. Sementara Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa makna yushallūna adalah memberikan keberkahan.

Karena itu, memperbanyak sholawat sejatinya bukan hanya bentuk cinta kepada Rasulullah SAW, tetapi juga ikhtiar menjemput rahmat dan keberkahan Allah SWT. Sholawat menjadi sarana yang menghubungkan umat dengan teladan terbaik sepanjang sejarah manusia.

Para ulama sepakat bahwa sholawat merupakan amalan yang sangat agung dan memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Pada dasarnya hukumnya sunnah muakkadah atau sangat dianjurkan. Bahkan dalam keadaan tertentu, sholawat menjadi bagian yang wajib dalam pelaksanaan ibadah.

Dalam kajian fikih dijelaskan bahwa bacaan sholawat pada tasyahud akhir merupakan bagian penting dari kesempurnaan shalat. Kaidah Ushul Fikih menyebutkan:

“Ma la yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajibun.”

Artinya: “Sesuatu yang kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu hukumnya menjadi wajib.”

Kaidah tersebut menunjukkan bahwa sholawat bukan sekadar amalan tambahan, melainkan bagian dari kemuliaan ibadah yang menghubungkan seorang muslim dengan Rasulullah SAW.

Keutamaan sholawat juga ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW:

“Barang siapa bersholawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali.”

Pesan hadis tersebut memberikan gambaran betapa besar nilai amalan sholawat. Satu kali sholawat yang dibaca seorang hamba dibalas dengan sepuluh rahmat dari Allah SWT. Karena itu para ulama senantiasa menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak sholawat, baik pada hari Jumat, ketika berdoa, saat mendengar nama Rasulullah SAW disebut, maupun dalam berbagai majelis ilmu dan dzikir.

Adapun tata cara bersholawat yang diajarkan Rasulullah SAW sebagaimana riwayat Ka’ab bin Ujrah adalah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

Sholawat bukan sekadar bacaan yang diucapkan oleh lisan. Sholawat merupakan cermin cinta dan kerinduan kepada Rasulullah SAW. Orang yang mencintai Nabi akan senantiasa menghadirkan sholawat dalam kehidupannya.

Di tengah kerasnya kehidupan, hiruk-pikuk dunia, serta berbagai tantangan moral yang dihadapi umat saat ini, majelis-majelis sholawat menjadi cahaya yang menjaga hati tetap hidup, lembut, dan dekat kepada Allah SWT serta Rasul-Nya.

Keberadaan Majelis Sholawat Dalailul Khoirot Al-Hidayah Bani Karim patut disyukuri dan dirawat bersama. Kitab Dalailul Khoirot yang menjadi amalan utama jamaah merupakan karya Imam Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli, seorang ulama dan sufi besar asal Maroko yang dikenal luas di dunia Islam.

Selama berabad-abad, kitab tersebut menjadi sarana umat Islam untuk memperbanyak sholawat dan memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Tradisi yang diwariskan para ulama, guru, dan orang tua terdahulu jangan sampai memudar oleh perubahan zaman. Sebab dari majelis-majelis seperti inilah lahir kekuatan spiritual, persaudaraan, dan kecintaan umat kepada Nabi Muhammad SAW.

Pada akhirnya, kemajuan peradaban tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan perkembangan teknologi. Peradaban yang kuat adalah peradaban yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan dunia dan kekuatan spiritual. Sholawat mengajarkan nilai-nilai cinta, keteladanan, persaudaraan, dan ketakwaan yang menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang beradab.

Semoga kita semua diberikan keistiqamahan dalam menjaga majelis, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta terus mendengungkan kalimat-kalimat sholawat dalam kehidupan sehari-hari. Semoga melalui keberkahan sholawat dan syafaat Rasulullah SAW, kita senantiasa mendapatkan rahmat Allah SWT di dunia dan akhirat.(*)

Wallahu A’lam Bish Shawab.

Oleh: Abdul Waseh Hasas (AWH) ,Ketua PB PGRI, Ketua LKBH Nasional PB PGRI

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi