
Caption : SMKN 2 Rangkasbitung
JUARAMEDIA,LEBAK – Komitmen menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, modern, sekaligus ramah lingkungan terus diperkuat SMKN 2 Rangkasbitung. Melalui pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) secara bertahap dan akuntabel, sekolah ini memfokuskan anggaran pada penguatan sarana dan prasarana (sarpras) guna menunjang mutu pembelajaran serta memantapkan langkah menuju Adiwiyata Nasional.
Saat ini, SMKN 2 Rangkasbitung telah menyandang predikat Sekolah Adiwiyata tingkat Provinsi. Status tersebut menjadi pijakan untuk naik ke level nasional dengan memperkuat tata kelola lingkungan sekolah yang berkelanjutan.
Kepala sekolah, Sukarno, menegaskan bahwa penguatan fasilitas tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pada penciptaan ekosistem sekolah hijau dan sehat.
“Target kami bukan hanya peningkatan mutu pembelajaran, tetapi juga menjadikan sekolah ini sebagai lingkungan yang bersih, tertata, dan berbudaya peduli lingkungan. Kami sedang mempersiapkan diri menuju Adiwiyata Nasional,” ujarnya kepada wartawan, Senin (2/3/2026)
Sebagai sekolah kejuruan dengan tujuh kompetensi keahlian, kebutuhan praktik siswa menjadi prioritas utama. Pengadaan dan pembaruan perangkat komputer, laptop, serta sarana laboratorium dilakukan secara bertahap.
Saat ini tersedia 88 unit PC dan laptop untuk menunjang pembelajaran sekitar 1.600 siswa. Ke depan, sekolah menargetkan penambahan perangkat agar mendekati standar ideal sehingga praktik dan uji kompetensi berjalan optimal.
“Perangkat IT menjadi kebutuhan utama di era digital. Kami ingin siswa terbiasa dengan teknologi yang memadai,” jelas Sukarno.
Selain itu, pengadaan infokus, mesin fotokopi, serta mebeler baru menjadi bagian dari strategi peningkatan kualitas layanan pendidikan.
Dalam mendukung program Adiwiyata, sekolah juga melakukan pembenahan lingkungan, mulai dari pengecatan ruang kelas hingga penataan paving block agar lebih tertata dan bebas genangan.
Dari total 44 ruang kelas, sebanyak 20 kelas telah dicat ulang. Sejumlah gedung laboratorium juga dibenahi untuk menciptakan ruang belajar yang representatif.
Upaya ini selaras dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia terkait program Sekolah Aman dan Nyaman, sekaligus mendukung indikator penilaian Adiwiyata.
“Adiwiyata bukan sekadar penghargaan, tetapi budaya. Kami menanamkan kepedulian lingkungan kepada siswa melalui praktik langsung di sekolah,” katanya.
Program penghijauan, pengelolaan sampah berbasis pemilahan, serta pemanfaatan lahan praktik untuk kegiatan produktif menjadi bagian dari langkah strategis menuju Adiwiyata Nasional.
Sukarno memastikan seluruh pengelolaan Dana BOS dilakukan sesuai petunjuk teknis dan melalui sistem resmi pemerintah. Ia juga membuka ruang komunikasi sebagai bentuk transparansi publik.
“Kami siap terbuka. Prinsipnya, dana yang ada digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan siswa dan peningkatan mutu pendidikan,” tegasnya.
Dengan jumlah siswa yang besar serta kebutuhan praktik yang kompleks, pembenahan fasilitas memang dilakukan bertahap. Namun manajemen sekolah optimistis setiap tahun akan ada peningkatan signifikan, baik dari sisi sarpras maupun budaya lingkungan.
Melalui sinergi penguatan infrastruktur, digitalisasi pembelajaran, dan komitmen terhadap program Adiwiyata, SMKN 2 Rangkasbitung menegaskan langkahnya sebagai sekolah kejuruan yang unggul, modern, dan berwawasan lingkungan menuju Adiwiyata Nasional. (*)