Happy Tanpa Bullying: Jalan Cinta dalam Perspektif KBC

Yayat - JuaraMedia
6 Jun 2026 21:01
Opini 0 82
3 menit membaca

Oleh: Deni Subhani ,Ketua MdC of Lebak

Setiap anak datang ke sekolah atau madrasah dengan membawa sejuta mimpi dan harapan. Mereka ingin belajar dengan tenang, diterima oleh lingkungan, dihargai keberadaannya, serta merasa aman menjadi dirinya sendiri. Namun, tidak semua anak mendapatkan ruang yang ramah untuk bertumbuh.

Ancaman terhadap kebahagiaan anak di lingkungan pendidikan ternyata tidak selalu hadir dalam bentuk pelajaran yang sulit atau tuntutan akademik yang tinggi. Sering kali, luka justru lahir dari hal-hal yang dianggap sepele: ejekan, panggilan yang merendahkan, candaan berlebihan, hingga guyonan yang dinormalisasi atas nama keakraban.

Dalam beberapa kunjungan ke satuan pendidikan, saya melihat, mendengar, dan mengamati bahwa praktik-praktik semacam ini masih kerap terjadi. Sebagian pelaku mungkin tidak memiliki niat untuk menyakiti.

Mereka menganggapnya sebagai bentuk kedekatan antarteman. Namun, apa pun alasannya, ketika ucapan atau tindakan membuat orang lain merasa terluka, terhina, atau tidak nyaman, maka itu telah memasuki wilayah bullying.

Bullying bukan sekadar kenakalan biasa. Ia adalah kekerasan yang sering tidak meninggalkan bekas secara fisik, tetapi menyisakan luka mendalam dalam jiwa. Korban bullying dapat kehilangan rasa percaya diri, mengalami kecemasan, merasa terasing, bahkan kehilangan semangat untuk datang ke sekolah.

Di sinilah perspektif Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menjadi sangat relevan. KBC mengajarkan bahwa tujuan pendidikan tidak hanya mencetak individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga menghadirkan manusia yang memiliki empati, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama.

Kebahagiaan sejati tidak lahir dari perasaan lebih kuat, lebih populer, atau lebih berkuasa dibanding orang lain. Kebahagiaan sejati tumbuh dari kemampuan membuat orang lain merasa aman, dihargai, dan diterima.

Cinta tidak pernah merendahkan. Cinta tidak pernah mempermalukan. Cinta selalu memuliakan.

Ketika kita menertawakan kekurangan teman, sesungguhnya kita sedang kehilangan kesempatan untuk mencintai. Ketika kita memilih diam saat menyaksikan bullying terjadi, kita sedang membiarkan luka tumbuh di depan mata.

Sebaliknya, ketika kita menyapa dengan ramah, mendengarkan tanpa menghakimi, merangkul mereka yang berbeda, dan menghargai setiap keunikan yang dimiliki orang lain, saat itulah cinta sedang bekerja mengubah dunia, dimulai dari ruang-ruang kelas yang sederhana.

Madrasah yang bahagia bukanlah madrasah yang tidak pernah memiliki persoalan. Madrasah yang bahagia adalah madrasah yang seluruh warganya memiliki kesadaran untuk saling menjaga hati.

Tempat di mana tidak ada anak yang merasa takut datang ke sekolah. Tempat di mana setiap senyum disambut, setiap perbedaan dihormati, dan setiap peserta didik diperlakukan sebagai ciptaan Allah yang mulia.

Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan

melalui sabdanya bahwa seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; tidak menzaliminya dan tidak merendahkannya. Pesan ini menjadi pengingat bahwa setiap kata yang keluar dari lisan dan setiap tindakan yang kita lakukan seharusnya menjadi jalan hadirnya kasih sayang, bukan sumber penderitaan bagi orang lain.

Karena itu, membangun budaya “Happy Tanpa Bullying” tidak cukup hanya melalui aturan dan sanksi. Yang lebih penting adalah menumbuhkan kesadaran bersama bahwa setiap hati adalah amanah dari Allah yang harus dijaga.

Jangan menjadi alasan seseorang menangis. Jadilah alasan seseorang tersenyum. Jangan menjadi sumber luka. Jadilah sumber cinta.

Pada akhirnya, pendidikan yang paling berhasil bukan hanya pendidikan yang mampu mencerdaskan pikiran, melainkan pendidikan yang mampu melembutkan hati, menumbuhkan empati, dan mengajarkan manusia untuk saling mencintai.

Sebab dari hati yang dipenuhi cinta, akan lahir generasi yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga mulia dalam budi pekerti.

“Bahagia Bersama, Tumbuh Bersama, Tanpa Bullying, Penuh Cinta.”

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi