Siswi SD di Rangkasbitung Meninggal Diduga DBD, Respons Fogging Jadi Sorotan

Yayat - JuaraMedia
15 Okt 2026 15:45
Kesehatan 0 76
4 menit membaca

Caption : Ilustrasi 

JUARAMEDIA, LEBAK — Kabar meninggalnya Adifta Nur Amelia, siswi kelas 2B SDN 2 Muara Ciujung Timur , Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, menyisakan duka mendalam. Di tengah kabar yang beredar mengenai dugaan Demam Berdarah Dengue (DBD), pihak sekolah menyebut diagnosis tersebut belum dapat dipastikan.

Berdasarkan informasi yang disampaikan pihak sekolah kepada JUARAMEDIA pada Kamis (15/10/2026), Amel mengalami sakit panas sejak Senin. Ia disebut sempat mendapatkan pengobatan, tetapi tidak menjalani rawat inap karena kondisinya saat itu dinilai belum parah.

Dalam informasi lanjutan yang disampaikan melalui pesan kepada redaksi, Septi menjelaskan bahwa Amel mengalami kejang-kejang sebelum dibawa untuk mendapatkan pertolongan. Siswi tersebut kemudian dikabarkan meninggal sekitar pukul  setengah 06.00 WIB.

Terkait kabar DBD, Septi menegaskan bahwa informasi tersebut belum jelas dan masih sebatas dugaan yang beredar di kalangan orang-orang yang melayat.

Dengan demikian, penyebab pasti kematian Amel belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang diperoleh redaksi. Konfirmasi dari fasilitas kesehatan yang menangani diperlukan untuk menjelaskan diagnosis serta kronologi medisnya.

Septi Guru olahraga SDN 2 Muara Ciujung Timur sebelumnya membenarkan kabar meninggalnya Amel saat dikonfirmasi JUARAMEDIA pada Kamis (15/10/2026).

Guru tersebut mengaku sempat mengajar almarhumah dalam pelajaran olahraga pada pekan sebelumnya. Berdasarkan pengamatannya saat kegiatan belajar berlangsung, Amel terlihat sehat dan tidak menunjukkan kondisi yang mencolok.

“Kami juga kaget. Minggu kemarin masih ikut pelajaran olahraga. Waktu itu terlihat sehat, tidak ada apa-apa, Sekarang jenazahnya dibawa keluarganya ke Jawa ” ujar Septi

Keterangan itu merupakan pengamatan guru di lingkungan sekolah dan tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan kondisi medis Amel sebelum meninggal dunia.

Pihak sekolah juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Guru tersebut mengatakan kondisi keluarga yang sedang berduka perlu dihormati.

Pengamat Kebijakan Publik dan Lingkungan, Aryo Lukito, menyoroti pentingnya penguatan pencegahan penyakit di lingkungan permukiman dan sekolah. Ia meminta pemerintah daerah serta instansi terkait memperkuat deteksi dini, pemantauan kesehatan masyarakat, dan pengendalian risiko penyakit yang berpotensi membahayakan anak-anak.

Dalam keterangannya, Aryo mempertanyakan efektivitas langkah pencegahan DBD di lingkungan rawan dan mendorong agar upaya pengendalian tidak hanya dilakukan setelah muncul kasus.

“Mengapa untuk melakukan fogging atau pengasapan harus menunggu ada korban yang meninggal dunia terlebih dahulu? Seharusnya daerah-daerah atau lingkungan rawan DBD langsung dipetakan dan dilakukan upaya pencegahan sebelum jatuh korban,” tegas Aryo.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan Aryo mengenai pentingnya pencegahan DBD. Namun, kaitan antara kematian Amel dan dugaan DBD belum terkonfirmasi, sehingga belum dapat disimpulkan bahwa peristiwa ini berkaitan dengan keterlambatan fogging atau kelalaian pihak tertentu.

Pencegahan DBD membutuhkan keterlibatan pemerintah, petugas kesehatan, pihak sekolah, dan masyarakat.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air, serta melakukan langkah pencegahan tambahan.

Fogging bukan satu-satunya cara untuk mengendalikan DBD. Pengasapan terutama ditujukan untuk membunuh nyamuk dewasa dan pelaksanaannya perlu mempertimbangkan hasil penyelidikan epidemiologi serta rekomendasi petugas kesehatan.

Karena itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak dan puskesmas setempat perlu memastikan apakah terdapat indikasi penularan DBD di lingkungan tempat tinggal korban dan apakah langkah pengendalian khusus diperlukan.

Selain pencegahan di lingkungan, masyarakat juga perlu mewaspadai kondisi anak yang mengalami sakit dan perubahan kondisi secara mendadak. Demam yang disertai kejang merupakan kondisi darurat yang membutuhkan pertolongan medis segera.

Meninggalnya Amel menjadi duka bagi keluarga, pihak sekolah, dan lingkungan sekitarnya. Namun, informasi mengenai penyebab kematian tidak boleh disimpulkan hanya berdasarkan kabar yang beredar.

Redaksi masih memerlukan keterangan dari fasilitas kesehatan yang menangani untuk memastikan diagnosis dan kronologi medis.

Penjelasan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak juga dibutuhkan untuk mengetahui apakah ada indikasi kasus DBD di lingkungan terkait serta langkah pencegahan yang perlu dilakukan.

Hingga berita ini disusun, informasi yang diterima redaksi belum cukup untuk memastikan bahwa Amel meninggal akibat DBD.

Di tengah suasana duka, penguatan kewaspadaan kesehatan anak dan pencegahan penyakit di lingkungan sekolah maupun permukiman tetap menjadi perhatian penting.(*)

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi