Oplus_131072Caption : Wabup Lebak Amir Hamzah Ketika memberikan sambutan pada acara HAB Kemenag Lebak
JUARAMEDIA, LEBAK — Wakil Bupati Lebak, H. Amir Hamzah, menyampaikan peringatan keras mengenai krisis nilai yang tengah dialami manusia modern di tengah pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan dominasi media sosial.
Hal itu disampaikan Amir Hamzah saat menghadiri Puncak Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Kabupaten Lebak, meski berlangsung di hari libur. Menurutnya, kehadiran para ASN dan tokoh lintas agama menjadi bukti komitmen moral dalam menjaga nilai-nilai keagamaan di tengah perubahan zaman.

Caption : Wabup Lebak Amir Hamzah Ketika Menyerahkan Penghargaan
“Kementerian Agama ini lahir untuk mengisi dan menarasikan persoalan bangsa dari perspektif keagamaan. Karena agama apa pun itu, sejatinya adalah solusi,” ujar Amir Hamzah dalam sambutanya, Sabtu (3/1 /2026)
Dalam sambutannya , Wabup Lebak menyoroti fenomena masyarakat yang dinilai mulai kehilangan arah, karena lebih mempercayai AI, media sosial, dan hal-hal viral, dibandingkan tuntunan para ulama, pendeta, biksu, maupun tokoh agama lainnya.
“Manusia modern katanya sedang sakit. Karena hari ini lebih percaya pada medsos, lebih percaya pada AI, daripada para alim ulama. Ini masalah serius,” tegasnya.
Ia bahkan mencontohkan bagaimana AI, meski terlihat canggih, tetap memiliki keterbatasan dan bisa salah jika input datanya keliru.

Caption :Santunan Anak Yatim
“Mesin itu tergantung input. Sampah masuk, sampah keluar. AI bisa salah. Maka nilai-nilai ulama harus masuk ke AI, ke media sosial, agar narasi kebencian tidak terus berkembang,” katanya.
Amir Hamzah menekankan pentingnya Kementerian Agama dan tokoh agama aktif mengisi ruang digital, agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh ujaran kebencian dan tuduhan sepihak yang viral tanpa klarifikasi.
“Sekarang ini orang tidak mau koreksi, tidak mau tabayyun. Baru baca sedikit, langsung menuduh. Ini yang berbahaya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa etika dan kesopanan di dunia nyata harus sama dengan perilaku di media sosial.
“Kita sopan saat bertemu langsung, tapi di medsos seolah tidak ada orang. Padahal yang kita tulis itu ada dampaknya,” imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, Wabup Lebak juga mengingatkan para ASN agar tidak terjebak pada penyalahgunaan jabatan.
“Jabatan itu akan hilang. Yang penting adalah bagaimana jabatan itu memberi manfaat, bukan dimanfaatkan,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh aparatur Kementerian Agama untuk terus bekerja sesuai kapasitas, penuh keikhlasan, dan menjadikan agama sebagai kompas moral dalam menghadapi masa depan yang penuh tantangan teknologi.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lebak, Iwan Falahudin, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Wakil Bupati dan seluruh pihak yang mendukung rangkaian HAB ke-80.
Ia menjelaskan bahwa puncak HAB telah dilaksanakan, dan akan ditutup dengan seminar terbuka pada 11 Januari 2026 yang diikuti lebih dari 2.000 peserta.
Ketua Panitia HAB ke-80 Kemenag Lebak, Hj. Neng Euis, juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh ASN, guru madrasah, penyuluh lintas agama, serta jajaran Pemkab Lebak dan aparat keamanan yang telah menyukseskan rangkaian kegiatan.
” Selain berbagai rangkaian kegiatan, kita juga memberikan penghargaan lencana pengabdia dari Kemenag RI terhadap mereka yang telah mengabdi 10,20 dan 30 tahun, juga memberikan santunan terhadap 89 anak yatim piatu” pungkas Kasi Pontren Kemenag Lebak ini. (budi)