Pilkada Pandeglang Jangan Jadi Ajang Haus Kekuasaan

Redaksi - JuaraMedia
20 Des 2019 13:18
2 menit membaca

Ferdi Ligaswara, Balon Bupati Pandeglang pada Pilkada serentak 23 September 2019 mendatang. (Foto/JM/Deni)

Reporter: Deni | Editor: Budi Harto

 

JUARAMEDIA COM, Pandeglang – Pilkada Pandeglang yang akan datang jangan dijadikan haus kekuasaan, tapi harus prestasi dan sebagai langkah awal untuk menentukan nasib Kabupaten Pandeglang maju dan berkembang untuk kesejahteraan rakyat.

Demikian disampaikan Ferdi Ligaswara, salah satu tokoh masyarakat Pandeglang yang kini sebagai Birokat di lingkungan Pemkot Bandung, Jawa Barat yang niat mencalonkan diri sebagai Balon Bupati Pandeglang pada Pilkada serentak pada 23 September 2020 mendatang.

Menurut Ferdi, dengan tetap menggenjot pendapatan asli daerah (PAD) di sektor pariwiisata, pertanian, dan lainnya di Pandeglang kedepan.

“Hal ini harus menjadi evaluasi sekaligus koreksi, semakin banyak menerima koreksi dengan lapang dada, artinya justru harus berterima kasih. Pemimpin yang akan datang juga harus visioner, ounye kepekaan yang tinggi terhadap kekurangan serta masalah.” katanya.

Menurut Ferdi yang telah mendaftar kesemua parpol yang ada ini, jika seseorang menjadikan dirinya karena haus kekuasaan semata, maka besar kemungkinan dirinya tidak akan bisa menjalankan amanah dengan baik.

“Pemimpin Pandeglang kedepan siapapun perlu kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas, Kerja Berkualitas serta Kerja Tuntas dalam memimpin daerah yang memang banyak ketertinggalan. Saya tentu tidak rela sebagai salah salah satu tokoh pendiri Propinsi Banten apalagi asli daerah Pandeglang melihat kondisi daerahnya tidak sesuai yang diharapkan,” tandasnya.

Hal itu pun, lanjut Ferdi juga merupakan harapan para kyai, tokoh dan masyarakat luas di Pandeglang, termasuk para milineal, pelajar dan mahasiswa.

“PAD yang masih sangat minim, infrastruktur yang sangat jelek, sektor pertanian, pariwisata harus lebih mendapat skala prioritas, tentu berkaitan dengan karakteris Pandeglang yang agamis harus mendapat perhatian lebih, sebutan kota sejuta santri seribu kyai harus dikembalikan sesuai hitohnya.” tuturnya.

TIM REDAKSI
Author: TIM REDAKSI

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *