Oplus_131072
Caption : Bupati Lebak Hasbi Asyidiki Jayabaya pada acara pembukaan FSM 2025
JUARAMEDIA, LEBAK – Bupati Lebak Moch. Hasbi Asyidiki Jayabaya menegaskan Festival Seni Multatuli (FSM) 2025 bukan sekadar pesta budaya, melainkan bukti nyata keseriusan Lebak dalam membangun identitas kebudayaan. Dengan semangat Trisakti Bung Karno, Hasbi menyebut FSM sebagai simbol kemandirian politik, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat Lebak.
Dalam sambutannya pada pembukaan FSM 2025, Hasbi mengapresiasi gagasan dan dorongan dari sejarawan sekaligus budayawan Bonnie Triyana. Menurutnya, festival tahunan ini tidak mungkin terwujud tanpa peran penting Bonnie sejak berdirinya Museum Multatuli pada 2018.
“Acara ini tidak akan bisa terwujud tanpa aspirasinya Pak Bonnie. Dengan semangat Trisakti Bung Karno—berdaulat di politik, berdikari di ekonomi, dan berkepribadian di kebudayaan—FSM menjadi bukti bahwa Lebak serius membangun identitas kebudayaan,” kata Hasbi, Jumat (19/9/2025)
FSM yang mengusung tema “Orang-Orang Baru dari Banten” disebut Hasbi sebagai ruang kolaborasi lintas generasi untuk merawat ingatan sejarah sekaligus melahirkan gagasan baru bagi anak muda.
Festival ini menampilkan beragam agenda, mulai dari prosesi Ngarengkong bersama 300 warga Kasepuhan Banten Kidul, simposium “Sastra Hindia Belanda dan Kita”, hingga tur sejarah Telusur Jejak Multatuli. Sebagai penutup, FSM memutar film dokumenter Setelah Multatuli Pergi karya Arjan Onderdenwinjgaard di kawasan Patung Multatuli.
Sejumlah tokoh hadir dalam pembukaan FSM 2025, di antaranya Ketua DPRD Kabupaten Lebak Dr. Juwita, Ketua DPRD Pandeglang H. Agus Umam, Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan Prof. Dr. Agus Mulyana, Ketua DPP PDI Perjuangan Dr. Ribka Tjiptaning, hingga seniman nasional Butet Kartaredjasa.
Kehadiran tokoh lintas politik, budaya, dan masyarakat ini semakin menegaskan posisi FSM sebagai ruang kolaborasi yang melampaui batas daerah.
“Festival Seni Multatuli adalah ajang pertemuan seniman. Kolaborasi yang terjadi di sini bukan hanya memperkuat kebudayaan lokal, tapi juga memberi ruang agar karya dari Lebak bisa menembus panggung nasional, bahkan dunia,” tambah Bonnie Triyana.
FSM 2025 tak hanya menjadi magnet kebudayaan di Banten, tapi juga tonggak komitmen Lebak dalam meneguhkan diri sebagai Kota Kebudayaan. (jm)