Proyek Irigasi Rp100 Miliar di Lebak-Pandeglang Disorot, Spek Beton Diduga Bermasalah

Yayat - JuaraMedia
25 Feb 2026 14:57
Irigasi 0 80
3 menit membaca

Caption : Proyek Irigasi di Lebak-Pandeglang Disorot

JUARAMEDIA, LEBAK – Proyek pembangunan irigasi di Desa Cibuah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, menuai sorotan. Pekerjaan pengecoran diduga tidak sesuai spesifikasi teknis (spek), mulai dari mutu beton, metode pelaksanaan, hingga perhitungan volume material dan biaya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun JUARAMEDIA di lapangan, pengecoran dilakukan tanpa kejelasan mutu beton (K/MPa), ketebalan, serta komposisi campuran semen. Pekerjaan juga disebut dilakukan secara manual tanpa menggunakan mesin molen, meski lokasi memiliki debit air yang cukup besar.

“Ini masalah spek beton. Beton mutu berapa, ketebalan berapa, itu tidak pernah dijelaskan. Sistemnya manual, air besar, tapi tetap dicor,” ujar sumber di lokasi, Rabu (25/2/2026).

Sumber tersebut mempertanyakan daya tahan konstruksi jika mutu beton dan metode pelaksanaan tidak sesuai standar teknis.

Sejumlah pekerja juga menyoroti dugaan ketidaksesuaian volume material. Secara umum, pengecoran beton sepanjang 5 meter dapat menghabiskan sekitar 20 sak semen, tergantung lebar dan ketebalan.

Namun di proyek ini, material yang datang dinilai tidak sebanding dengan panjang pekerjaan di lapangan. Dengan lebar irigasi sekitar 2,10 meter dan ketebalan beton diperkirakan 15–20 sentimeter, kebutuhan semen semestinya cukup besar.

Di lapangan juga disebutkan semen yang digunakan berukuran 40 kilogram per sak, sementara dalam praktik umum spesifikasi teknis kerap mengacu pada kemasan 50 kilogram per sak.

“Kalau dihitung, panjang puluhan meter mestinya habis puluhan sak semen. Tapi faktanya tidak sesuai. Ini yang jadi pertanyaan,” ungkap sumber.

Persoalan lain muncul terkait sistem pembayaran pengecoran. Setelah pekerjaan berjalan, muncul angka Rp100.000 per kubik. Padahal, di lapangan, upah pengecoran jalan umumnya berkisar Rp45.000 per meter persegi.

Perbedaan satuan hitung antara meter kubik dan meter persegi tersebut memicu kebingungan dan dugaan kurangnya transparansi sejak awal kontrak borongan.

“Di mana-mana ngecor itu sekitar Rp45 ribu per meter persegi. Ini tiba-tiba muncul Rp100 ribu per kubik. Dari mana hitungannya?” kata pekerja lainnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, proyek ini sempat berada di bawah kendali pihak berinisial NK, kemudian dialihkan ke BLA, sebelum kembali berpindah ke BLK. Di tengah pelaksanaan, salah satu pihak disebut mundur dan memutus kontrak.

Nama PT Bangun Laksana Abadi disebut sebagai salah satu perusahaan yang terlibat dalam rantai pekerjaan proyek tersebut.

Proyek irigasi ini dikabarkan bersumber dari anggaran lebih dari Rp100 miliar yang terbagi di sekitar delapan titik, antara lain Cisangu, Cibayawak, Sesepan, Cilembu, Cilemer, dan Citundun Timur. Salah satu wilayah disebut menerima sekitar Rp3,5 miliar dari total pagu anggaran.

Sementara itu Erwin, pengawas pelaksana dari PT Bangun Laksana Abadi, menjelaskan bahwa tidak digunakannya molen disebabkan keterbatasan akses jalan menuju lokasi pekerjaan. Ia juga menyebut proyek tersebut merupakan bagian dari Tahun Anggaran 2025.

“Ini sudah adendum, dan proyek ini ada 12 titik dari Pandeglang hingga ke Lebak,” ujar Erwin yang turut memberikan penjelasan terkait pelaksanaan proyek.

Menurutnya, ketinggian irigasi disesuaikan dengan kontur tanah, serta pelaksanaan pembangunan dilakukan berdasarkan titik atau spot pekerjaan yang telah ditentukan.

Sejumlah pihak mendesak instansi terkait segera melakukan audit teknis dan keuangan. Dokumen spesifikasi teknis beton, Rencana Anggaran Biaya (RAB), serta metode pelaksanaan pekerjaan dinilai perlu dibuka secara transparan kepada publik.

Jika dugaan ini terbukti, proyek irigasi yang seharusnya meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat berpotensi menimbulkan persoalan hukum dan merugikan warga.

JUARAMEDIA masih berupaya mengonfirmasi pihak-pihak terkait lainnya guna memperoleh keterangan lebih lanjut dan menghadirkan pemberitaan yang berimbang. (Bud/Ade)

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi