Proyek Irigasi Lebak–Pandeglang Disorot: Bangunan Retak dan Jebol, Rifay Klarifikasi Bukan Pekerjaan Perusahaannya

Yayat - JuaraMedia
28 Feb 2026 17:39
Irigasi 0 73
2 menit membaca

Caption : Suara Klarifikasi  Perwakilan Pelaksana DI Cibuah , Warunggunung

JUARAMEDIA,LEBAK – Proyek rehabilitasi irigasi senilai Rp144,6 miliar di wilayah Lebak–Pandeglang kembali menjadi sorotan publik. Sejumlah titik dilaporkan mengalami retak-retak hingga jebol, meski pekerjaan disebut telah selesai pada akhir 2025.

Temuan di lapangan menunjukkan adanya bangunan irigasi yang retak pada bagian pelesteran, bahkan satu titik dilaporkan jebol setelah diguyur hujan semalaman. Kondisi tersebut memicu pertanyaan terkait kualitas pekerjaan dan kesesuaian spesifikasi teknis (spek) dalam pelaksanaan proyek.

Menanggapi hal itu, Rifay, perwakilan pihak perusahaan pelaksana, memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa titik irigasi yang jebol bukan bagian dari pekerjaan pihaknya.

“Yang jebol itu bangunan lama, bukan masuk dalam pekerjaan kami. Itu pekerjaan tahun lalu dan di luar job kami,” ujar Rifay saat dikonfirmasi, Sabtu (28/2/2026)

Menurutnya, pekerjaan yang dilaksanakan perusahaannya berbasis spot-spot atau titik tertentu sesuai kontrak. Ia menyebut bangunan lama yang tidak masuk penanganan memang belum direhabilitasi karena tidak termasuk dalam volume pekerjaan.

“Perbaikan kami berdasarkan lokasi yang benar-benar mengalami kerusakan saat awal survei. Titik yang sekarang jebol itu sebelumnya tidak dalam kondisi retak,” katanya.

Terkait adanya retak-retak pada bangunan baru, Rifai menyebut keretakan tersebut hanya sebatas retak rambut pada pelesteran, bukan retak struktural yang membahayakan konstruksi.

“Itu hanya retak rambut di bagian plesteran. Bisa jadi karena faktor cuaca saat pelaksanaan. Secara struktur kuat. Buktinya, saat debit air tinggi, bangunan baru tidak ada yang roboh, justru bangunan lama yang terdampak,” jelasnya.

Soal penggunaan material, termasuk isu perbedaan semen 40 kilogram dan 50 kilogram, Rifai menyatakan tidak ada pelanggaran spesifikasi.

“Kita bicara kilo. Mau satu sak 50 kilo atau 40 kilo, yang penting komposisi campuran sesuai spek. Itu ada pengujiannya,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa metode pengadukan tidak selalu menggunakan molen, terutama di lokasi yang tidak memungkinkan secara teknis.

“Kalau kondisi lapangan tidak memungkinkan menaruh molen, bisa pakai adukan manual. Yang penting campurannya sesuai spesifikasi,” tambahnya.

Pekerjaan tersebut diketahui memiliki masa pelaksanaan hingga Desember 2025. Saat ini, proyek memasuki masa pemeliharaan selama satu tahun.

“Kita ada masa pemeliharaan satu tahun. Kalau ada yang perlu diperbaiki, akan kita tindaklanjuti,” ujar Rifay

Ia juga menyinggung adanya pekerjaan tambahan di luar volume awal yang masih masuk dalam program dan sedang diselesaikan.

Namun demikian, temuan di lapangan menunjukkan sejumlah titik bangunan baru mengalami retak yang dinilai lebih dari sekadar retak rambut. Beberapa bagian terlihat retak memanjang pada dinding saluran.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran soal daya tahan konstruksi dalam jangka panjang, terutama saat menghadapi musim hujan dengan debit air tinggi. (Ade/budi)

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi