
Tokmas KH Adang Jajuli
JUARAMEDIA.COM LEBAK – Tokoh masyarakat Kabupaten Lebak KH Adang Jajuli menyatakan protokol kesehatan wajib dilaksanakan guna perlindungan diri sendiri maupun orang lain dari penyebaran penyakit yang membahayakan.
“Kita dalam kondisi seperti ini harus mentaati protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penularan COVID-19,” kata KH Adang di Lebak,12/12/2020
Pelaksanaan protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak fisik dan mencuci tangan (3M) wajib diterapkan, meski vaksin COVID-19 sudah tiba di Indonesia.
Dalam kaedah usul fiqih begitu tegas “la dharara wala dhirara” atau jangan mencelakakan diri sendiri juga orang lain.
Dengan demikian, kata dia, protokol kesehatan merupakan perbuatan ikhtiar atau usaha preventif guna mengantisipasi penyebaran penyakit yang membahayakan itu.
“Kami mengingatkan masyarakat wajib memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan untuk perlindungan diri sendiri dan orang lain dari serangan penyakit yang membahayakan itu,” kata Kyai pimpinan Pesantren Tafriijal Ahkam Cikiray Rangkasbitung.
Untuk saat ini, kata dia, semua elemen masyarakat wajib menerapkan protokol kesehatan dengan 3M itu.
Masyarakat hingga kini tidak mengetahui dimana virus itu berada dan kapan berakhir, sehingga diwajibkan untuk menjaga kesehatan.
Sebab, jika menyodorkan diri dengan kerusakan tentu haram hukumnya menurut ajaran Islam juga terdapat firman Tuhan dalam surah Alquran.
“Kita serahkan dan tawakal kepada Allah Swt semoga virus Corona itu dihilangkan,” katanya.
Ia juga berharap pemberian vaksin COVID-19 yang sudah tiba di Indonesia sebanyak 1,2 juta dosis vaksin buatan perusahaan biofarmasi Sinovac segera direalisaikan awal tahun 2021.
Selama ini, kata dia, jumlah kasus COVID-19 di Indonesia cenderung meningkat, termasuk bertambahnya angka kematian.
Pemerintah bekerja keras untuk pengendalian agar Indonesia terbebas dari penyebaran COVID-19 melalui kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) adaptasi kebiasaan baru (AKB) hingga pemberian sanksi denda pada masyarakat agar memberikan efek jera.
“Kita bersama santri setiap shalat selalu membaca doa qunut nazilah agar bangsa terbebas dari penyebaran penyakit yang membahayakan dan mematikan. Kejadian musibah non alam itu dinilai sangat luar biasa,” kata alumni Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. (arya/JM)
Tidak ada komentar