
Caption : Deni Subhani Sekertaris PB PGIN
JUARAMEDIA, LEBAK – Ucapan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pandeglang yang menyebut aksi ribuan guru honorer madrasah ke Istana Negara sebagai hal yang “bikin repot pemerintah”, menuai kecaman keras dari kalangan guru madrasah. Pengurus organisasi PGIN dan MDC di Banten menilai pernyataan itu tidak berempati dan menunjukkan arogansi pejabat publik.
Sekretaris Pengurus Besar Persatuan Guru Inpassing Nasional (PB PGIN), Deni Subhani, menilai pernyataan Kepala Kemenag Pandeglang itu sebagai bentuk ketidakpekaan terhadap penderitaan ribuan guru madrasah yang selama ini berjuang tanpa kejelasan status dan kesejahteraan.
“Kami sangat menyayangkan pernyataan pejabat seperti itu. Dari sini saja kita bisa menilai, bahwa Kepala Kemenag Pandeglang adalah sosok pejabat yang tidak memiliki empati dan lebih mementingkan kepentingan pribadi serta kelompoknya,” tegas Deni yang juga ketua MDC of Lebak ini melalui sambungan telepon, Jumat (31/10/2025).
Menurut Deni, aksi para guru madrasah di Istana Negara pada Rabu (30/10/2025) bukanlah bentuk perlawanan, melainkan seruan nurani agar pemerintah mendengar suara mereka.
“Kalau bukan karena kepepet, mana mungkin guru-guru itu rela jauh-jauh datang ke Jakarta dengan biaya sendiri hanya untuk didengar,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan pejabat publik agar tidak menganggap aspirasi guru sebagai ancaman, melainkan bentuk partisipasi dalam memperbaiki kebijakan pendidikan madrasah.
“Justru pejabat seperti inilah yang sering bikin citra Kemenag buruk di mata masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, Kepala Kemenag Pandeglang belum memberikan klarifikasi resmi atas ucapannya yang menjadi sorotan publik tersebut.(*)