Wabup Amir Blak-blakan: Lebak Kaya Potensi, tetapi Belum Punya Branding

Yayat - JuaraMedia
2 Okt 2026 21:40
5 menit membaca

Caption : Wabup Amir Hamzah dan Ketua DPRD, dr Juwita Wulandari Ketika Menghadiri Milad ke 7 Pokja Wartawan Lebak di Garut 

JUARAMEDIA, GARUT – Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, secara terbuka mengakui Kabupaten Lebak memiliki kekayaan potensi budaya, sejarah, dan pariwisata, namun hingga kini belum memiliki branding atau identitas daerah yang kuat untuk dikenal secara luas. Padahal, keberadaan masyarakat adat Baduy dan warisan sejarah Multatuli dinilai menjadi keunikan yang dapat diangkat sebagai ikon unggulan untuk memperkenalkan Lebak ke tingkat nasional hingga internasional.

Hal tersebut disampaikan Amir Hamzah saat menghadiri Milad ke-7 Pokja Wartawan Lebak di Garut, Jawa Barat, Jumat (2/10/2026). Ia menegaskan, Lebak membutuhkan strategi branding yang berakar pada sejarah, budaya, dan karakter lokal agar potensi daerah dapat dikembangkan menjadi daya tarik pariwisata, membuka peluang investasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Lebak itu unik, tetapi kita belum punya branding. Menurut ahli branding, identitas daerah harus mengakar, memiliki sejarah yang kuat, DNA yang kuat, dan jiwa yang kuat,” ujar Amir dalam sambutannya.

Menurutnya, Kabupaten Lebak memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki daerah lain. Dua di antaranya adalah masyarakat adat Baduy yang masih mempertahankan tradisi leluhur serta Multatuli yang memiliki nilai sejarah dan dikenal melalui karya sastra Max Havelaar.

Amir menilai, kedua identitas tersebut dapat menjadi modal utama dalam membangun citra Kabupaten Lebak di mata dunia. Kekayaan budaya dan sejarah itu perlu dikemas melalui strategi promosi yang tepat agar memiliki daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Baduy hanya ada satu di dunia. Termasuk Multatuli, yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Lebak. Ini yang tidak dimiliki kabupaten lain di Banten,” ungkapnya.

Selain persoalan branding, Amir juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur untuk mendukung pengembangan destinasi wisata di Kabupaten Lebak. Menurutnya, luas wilayah dan keterbatasan anggaran daerah menjadi tantangan tersendiri sehingga pemerintah harus menentukan skala prioritas pembangunan.

Ia berpandangan, pembangunan tidak harus dilakukan secara serentak di seluruh wilayah, melainkan difokuskan pada sejumlah kawasan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi unggulan.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah akses menuju kawasan wisata di wilayah selatan Lebak, termasuk jalur yang menghubungkan sejumlah destinasi wisata dengan jalan nasional.

Peningkatan kualitas infrastruktur tersebut diharapkan dapat mempermudah mobilitas wisatawan sekaligus membuka peluang tumbuhnya usaha masyarakat di sekitar kawasan wisata.

Amir juga menilai, pembangunan infrastruktur dapat dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat, sehingga beban pembiayaan tidak sepenuhnya bertumpu pada APBD Kabupaten Lebak.

“Kita sebenarnya kalau mau fokus membangun, harus bisa memilih. Jangan semuanya karena anggarannya terbatas. Kita pilih beberapa destinasi, jangan semuanya, karena semuanya itu tidak ada uangnya,” tegasnya.

Ia berharap, pengembangan akses wisata yang terencana dapat mendorong tumbuhnya investasi, seperti penginapan, vila, dan fasilitas pendukung pariwisata lainnya. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur tidak hanya meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

Dalam kesempatan tersebut, Amir turut mencontohkan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, sebagai daerah yang berhasil mengembangkan identitas melalui sektor budaya dan pariwisata.

Menurutnya, keberhasilan suatu daerah dalam membangun branding tidak hanya bergantung pada keindahan alam, tetapi juga pada kemampuan mengangkat karakter lokal, sejarah, dan kebudayaan menjadi daya tarik yang memiliki nilai ekonomi.

Ia mendorong agar Kabupaten Lebak dapat mengembangkan strategi serupa dengan memanfaatkan kekhasan yang dimiliki, terutama budaya Baduy, sejarah Multatuli, serta potensi wisata alam di wilayah utara maupun selatan.

Amir juga melihat perkembangan media digital, termasuk TikTok dan platform berbagi video, sebagai peluang besar untuk memperluas promosi pariwisata Lebak.

Konten digital yang dibuat wisatawan maupun kreator dari luar daerah dapat membantu memperkenalkan destinasi wisata kepada khalayak yang lebih luas.

Menurutnya, ketertarikan masyarakat luar terhadap budaya dan destinasi wisata Lebak menjadi peluang yang perlu dimanfaatkan secara optimal oleh pemerintah daerah.

“Kalau orang luar membuat vlog, TikTok, atau video tentang daerah kita, berarti ada pasarnya. Ini menjadi peluang untuk mengembangkan pariwisata,” tuturnya.

Di hadapan para wartawan, Amir juga menegaskan pentingnya peran pers dalam mendukung pembangunan dan kehidupan demokrasi. Ia menyebut pers sebagai salah satu komponen penting bersama birokrasi, partai politik, organisasi kemasyarakatan, dan dunia usaha dalam mendorong kemajuan bangsa.

Menurutnya, pers memiliki fungsi strategis dalam menyampaikan informasi, mengawal kebijakan publik, serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan kritik terhadap penyelenggaraan pemerintahan.

Karena itu, ia berharap insan pers dapat terus menjaga profesionalisme, menyajikan pemberitaan yang berimbang, serta berkontribusi dalam memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat luas.

Sementara itu, Ketua DPRD Lebak, dr. Juwita Wulandari, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Milad ke-7 Pokja Wartawan Lebak. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi dan membangun kebersamaan di antara para insan pers.

Juwita mengungkapkan, kegiatan yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan tersebut menjadi kesempatan bagi para wartawan untuk sejenak beristirahat dari rutinitas peliputan sekaligus memperkuat solidaritas.

Ia juga menyinggung risiko yang dihadapi wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik. Menurutnya, keselamatan dan kesehatan harus tetap menjadi perhatian, mengingat setiap orang memiliki keterbatasan dan tidak mengetahui panjangnya usia.

“Ketika kita diberikan umur yang panjang oleh Allah, maka manfaatkan semaksimal mungkin untuk kebaikan,” ujar Juwita.

Ia berharap Pokja Wartawan Lebak terus berkembang menjadi organisasi yang mampu menjaga solidaritas, meningkatkan kualitas jurnalistik, serta konsisten menghadirkan informasi yang akurat dan berimbang kepada masyarakat.

“Selamat ulang tahun untuk Pokja Wartawan Lebak yang ke-7. Semoga selalu menjadi garda terdepan dalam penyajian berita yang luar biasa dan berimbang,” katanya.

Peringatan Milad ke-7 Pokja Wartawan Lebak di Garut tersebut menjadi momentum memperkuat hubungan antara pemerintah daerah, legislatif, dan insan pers.

Selain mempererat silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk membahas potensi daerah, pengembangan pariwisata, serta peran media dalam mendukung pembangunan Kabupaten Lebak. (*)

 

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi