Jejak Suci Kanekes: 2.000 Warga Baduy Kembali Gelar Tradisi Sakral Seba pada 23 April 2026

Yayat - JuaraMedia
8 Apr 2026 19:30
Budaya 0 23
4 menit membaca

Caption : SebaBaduy  (dok)

JUARAMEDIA,LEBAK – Dentingan lembut Angklung Buhun kembali akan menggema, menandai dimulainya perjalanan spiritual paling dinanti di Tanah Banten. Bertepatan dengan 23 April 2026, ribuan warga adat dari pedalaman Kanekes siap menapaktilasi jejak leluhur mereka dalam Tradisi Sakral Seba Baduy.

Sebanyak kurang lebih 2.000 warga Baduy, yang terbagi dari kelompok Baduy Dalam dan Baduy Luar, akan turun gunung secara serentak. Mereka tidak membawa kendaraan bermotor, melainkan memilih berjalan kaki menembus hutan dan desa, membawa serta hasil bumi terbaik sebagai simbol rasa syukur atas panen raya dan bentuk penghormatan tertinggi kepada pemerintah daerah.

Gelombang kemanusiaan ini akan tiba di Pendopo Kabupaten Lebak untuk bersilaturahmi dengan Bupati Lebak, yang dalam kearifan lokal disapa “Bapak Gede”, sebelum melanjutkan langkah suci menuju Serang untuk menemui Gubernur Banten. Momentum 23 April 2026 ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan pembuktian teguhnya komitmen suku Baduy dalam menjaga harmoni antara alam, manusia, dan penguasa di tengah arus modernisasi yang kian deras.

Plt. Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Iwan Setiawan, telah memberikan konfirmasi resmi mengenai pelaksanaan acara akbar ini. Menurutnya, seluruh persiapan koordinasi keamanan dan logistik telah matang untuk menyambut kedatangan ribuan tamu agung tersebut.

“Budaya Baduy atau Suku Baduy akan menggelar Seba Baduy pada tanggal 23 sampai 26 April 2026. Ini adalah kepastian yang kami tunggu bersama,” ujar Iwan Setiawan saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (8/4/2026).

Iwan menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan ini memiliki alur yang ketat dan sakral. Rombongan besar tersebut akan berjalan kaki dari wilayah Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, menuju pusat pemerintahan.

“Nantinya, Suku Baduy akan mendatangi Pendopo Kabupaten Lebak untuk menemui Bapak Gede (Bupati), kemudian dilanjutkan ke Pendopo Gubernur Banten untuk menemui Bapak Gubernur Banten,” paparnya

Bagi masyarakat awam, Seba mungkin terlihat seperti arak-arakan budaya. Namun, bagi warga Kanekes, ini adalah napas kehidupan. Seba adalah ritual tahunan wajib yang mengandung dua makna filosofis utama:

1.  Rasa Syukur: Sebagai wujud terima kasih kepada Nu Murbeng Alam (Tuhan Yang Maha Kuasa) atas hasil panen padi dan palawija yang melimpah.

2.  Loyalitas & Penghormatan: Bentuk sumpah setia dan penghormatan kepada pemimpin pemerintahan (Bupati dan Gubernur) yang dianggap sebagai pelindung keberlangsungan hidup adat mereka.

“Seba merupakan tradisi masyarakat Kanekes atau Baduy yang dilaksanakan setiap tahun sebagai ungkapan rasa terima kasih atas hasil panen, sekaligus menyerahkan hasil panen kepada Bapak Gede,” jelas Iwan Setiawan.

Dalam prosesi ini, warga Baduy akan membawa hasil bumi seperti padi, palawija, madu, hingga kerajinan tangan anyaman. Penyerahan ini dilakukan secara langsung dalam suasana khidmat, tanpa sekat formalitas birokrasi yang kaku, mencerminkan hubungan batin yang erat antara rakyat adat dan pemerintah.

Salah satu daya tarik paling memukau dari Seba Baduy adalah iringan musiknya. Ribuan peserta tidak berjalan dalam keheningan, melainkan diiringi oleh alunan Angklung Buhun. Instrumen bambu kuno ini hanya dimainkan pada momen-momen sakral tertentu.

Suara angklung yang bernada pentatonik ini menciptakan atmosfer magis sepanjang perjalanan. Bagi para pejalan kaki, irama ini berfungsi sebagai penyemangat dan pengingat akan tujuan suci perjalanan mereka. Tidak ada musik rekaman atau pengeras suara modern; semuanya murni dihasilkan dari alat tradisional yang dibuat secara manual oleh tetua adat.

Mengingat besarnya antusiasme dan pentingnya event ini bagi peta kebudayaan Indonesia, Iwan Setiawan mengajak seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pelajar, pemerhati budaya, hingga wisatawan domestik dan mancanegara, untuk hadir menyaksikan langsung.

“Perkiraan yang hadir dalam Seba Baduy sekitar 2.000 orang dari masyarakat Baduy. Kehadiran ribuan warga adat ini menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi leluhur yang telah berlangsung secara turun-temurun,” ucapnya.

Iwan pun menekankan pentingnya etika bagi para pengunjung. “Mari kita saksikan Seba Baduy tahun 2026 dengan datang ke Pendopo Bupati Kabupaten Lebak. Namun, harap diingat untuk tetap menghormati aturan adat, terutama larangan mengambil foto sembarangan terhadap warga Baduy Dalam dan menjaga ketenangan selama prosesi berlangsung,” pungkasnya.

Jadwal Penting Seba Baduy 2026

*   Waktu Pelaksanaan: 23 – 26 April 2026

*   Titik Awal: Desa Kanekes, Kec. Leuwidamar, Kab. Lebak

*   Tujuan Utama: Pendopo Kabupaten Lebak & Pendopo Gubernur Banten (Serang)

*   Estimasi Peserta: ± 2.000 Warga Adat Baduy

*   Agenda Inti: Jalan kaki jarak jauh, penyerahan hasil bumi, silaturahmi adat.

Tradisi Seba Baduy 2026 diharapkan bukan hanya menjadi tontonan sesaat, melainkan menjadi pengingat bagi masyarakat modern tentang pentingnya menjaga akar budaya, menghormati alam, dan merawat persatuan dalam keberagaman. (*)

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi