Diguyur Hujan Semalaman, Irigasi Cibuah Jebol di Tengah Proyek Rp100 Miliar, Dugaan Spek Beton Jadi Sorotan

Yayat - JuaraMedia
27 Feb 2026 18:13
Irigasi 0 106
4 menit membaca

Caption : Irigasi Cibuah Jebol 

JUARAMEDIA,LEBAK – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Lebak semalaman mengakibatkan Irigasi Cibuah Madjid di Desa Cibuah, Kecamatan Warunggunung, jebol pada Kamis (26/2/2026) malam.

Peristiwa tersebut terjadi saat proyek pembangunan irigasi di lokasi yang sama masih dalam tahap pengerjaan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, pekerjaan berada dalam area pelaksana PT BLA. Namun, titik yang jebol disebut merupakan bangunan lama di sisi kiri saluran irigasi.

“Iya, jebol semalam,” ujar Dedi, warga setempat, Jumat (27/2/2026).

Sebelum kejadian ini, proyek pembangunan irigasi di Desa Cibuah memang telah menuai sorotan. Sejumlah sumber di lapangan mempertanyakan dugaan ketidaksesuaian spesifikasi teknis (spek) dalam pekerjaan pengecoran beton.

Beberapa hal yang dipersoalkan antara lain tidak adanya kejelasan mutu beton (K/MPa), ketebalan konstruksi, hingga komposisi campuran material. Pengecoran juga disebut dilakukan secara manual tanpa menggunakan mesin molen, meski debit air di lokasi terbilang cukup besar.

“Ini masalah spek beton. Beton mutu berapa, ketebalan berapa, itu tidak pernah dijelaskan. Sistemnya manual, air besar, tapi tetap dicor,” ungkap salah satu sumber di lokasi, Rabu (25/2/2026).

Sumber tersebut menilai, tanpa kepastian mutu dan metode pelaksanaan sesuai standar teknis, daya tahan konstruksi menjadi pertanyaan, terlebih di tengah intensitas hujan tinggi.

Selain spek teknis, dugaan ketidaksesuaian volume material juga mencuat. Secara umum, pengecoran beton sepanjang 5 meter dapat menghabiskan sekitar 20 sak semen, tergantung lebar dan ketebalan.

Dengan lebar irigasi sekitar 2,10 meter dan ketebalan beton diperkirakan 15–20 sentimeter, kebutuhan material dinilai cukup besar. Namun, material yang datang disebut tidak sebanding dengan panjang pekerjaan di lapangan.

Di sisi lain, semen yang digunakan disebut berukuran 40 kilogram per sak. Padahal dalam praktik umum, spesifikasi teknis kerap mengacu pada kemasan 50 kilogram per sak.

“Kalau dihitung, panjang puluhan meter mestinya habis puluhan sak semen. Tapi faktanya tidak sesuai. Ini yang jadi pertanyaan,” ujar sumber lainnya.

Persoalan juga muncul terkait sistem pembayaran pengecoran. Setelah pekerjaan berjalan, muncul angka Rp100.000 per meter kubik. Sementara di lapangan, upah pengecoran jalan umumnya berkisar Rp45.000 per meter persegi.

Perbedaan satuan antara meter kubik dan meter persegi ini memicu kebingungan di kalangan pekerja serta dugaan kurangnya transparansi sejak awal kontrak borongan.

“Di mana-mana ngecor itu sekitar Rp45 ribu per meter persegi. Ini tiba-tiba muncul Rp100 ribu per kubik. Dari mana hitungannya?” kata salah seorang pekerja.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, proyek ini sempat berada di bawah kendali pihak berinisial NK, kemudian dialihkan ke BLA, sebelum kembali berpindah ke BNK. Di tengah pelaksanaan, salah satu pihak disebut mundur dan memutus kontrak.

Nama PT Bangun Laksana Abadi disebut sebagai salah satu perusahaan yang terlibat dalam rantai pekerjaan proyek tersebut.

Proyek irigasi ini dikabarkan bersumber dari anggaran lebih dari Rp100 miliar yang tersebar di sekitar delapan titik, antara lain Cisangu, Cibayawak, Sesepan, Cilembu, Cilemer, dan Citundun Timur. Salah satu wilayah disebut menerima sekitar Rp3,5 miliar dari total pagu anggaran.

Erwin, pengawas pelaksana dari PT Bangun Laksana Abadi, menjelaskan bahwa tidak digunakannya molen disebabkan keterbatasan akses jalan menuju lokasi pekerjaan. Ia juga menyebut proyek tersebut merupakan bagian dari Tahun Anggaran 2025.

“Ini sudah adendum, dan proyek ini ada 12 titik dari Pandeglang hingga ke Lebak,” ujarnya.

Menurutnya, ketinggian irigasi disesuaikan dengan kontur tanah dan pembangunan dilakukan berdasarkan titik atau spot pekerjaan yang telah ditentukan.

Sejumlah pihak mendesak instansi terkait segera melakukan audit teknis dan keuangan. Dokumen spesifikasi teknis beton, Rencana Anggaran Biaya (RAB), serta metode pelaksanaan pekerjaan dinilai perlu dibuka secara transparan kepada publik.

Apalagi, insiden jebolnya irigasi terjadi di tengah polemik dugaan ketidaksesuaian spesifikasi. Meski titik yang rusak disebut sebagai bangunan lama, peristiwa ini dinilai semakin memperkuat urgensi pengawasan menyeluruh terhadap proyek.

Jika dugaan pelanggaran terbukti, proyek yang seharusnya meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat berpotensi menimbulkan persoalan hukum dan merugikan warga.

JUARAMEDIA masih berupaya mengonfirmasi pihak-pihak terkait lainnya guna memperoleh keterangan lebih lanjut serta menghadirkan pemberitaan yang berimbang. (Bud/Ade)

 

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi