
Tingkatkan Kompetensi, Santri Lebak Perdalam Kajian Kitab Kuning Selama Ramadhan
Penulis :Arya |Editor :Budy
JUARAMEDIA.COM LEBAK – Sejumlah pondok pesantren Salafi di Kabupaten Lebak, Banten, memperdalam kajian kitab kuning selama bulan suci Ramadhan untuk meningkatkan kompetensi santri untuk menguasai bidang ilmu fiqh, tasauf hingga akidah Islam.
“Kajian kitab kuning itu menjadi agenda tahunan yang dilaksanakan setiap Ramadhan,” kata KH Daud Yusuf saat memperdalam kitab kuning bersana santri di Ponpes Nurul Ihsan Kampung Cilewong Desa Pasir Kupa Kecamatan Kalanganyar Kabupaten Lebak, Minggu (26/04/2020).
Para santri itu memperdalam pengkajian kitab kuning sejak pagi, siang hingga malam selama 24 jam.
Pengkajian kitab kuning di sini difokuskan untuk memperdalam Kitab “Nihayatu Az-Zain” karya An Nawawi Al-Jawi dari kampung Tanara Provinsi Banten dan wafat tahun 1317 H atau 1316 H.
Dimana kitab itu lebih banyak mengkaji tentang ilmu fikih bermazhab Asy-Syafi’i yang cukup dikenal oleh kaum muslimin terutama di Indonesia.
Penyampaian pengkajian dengan lugoh menggunakan bahasa jawa dan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan Sunda.
Sebab, para santri juga terdapat dari Batam, Lampung dan daerah lain di Tanah Air.
Kitab “Nihayatu Az-Zain” tidak hanya menelaah kitab-kitab fikih saja, namun diakhir kitab juga membahas tentang tasauf dan akidah.
“Santri di sini sebanyak 28 santri melakukan pengkajian kitab kuning agar meningkatkan sumber daya manusia (SDM), sehingga mereka mampu mengembangkan ilmu-ilmu fikih, tasauf hingga akidah,” kata pimpinan Ponpes Nurul Ihsan itu.
Menurut dia, para santri yang mengikuti pengkajian kitab “Nihayatu Az-Zain” juga dioptimalkan kemampuan membaca secara etimiologi bahasa dan harkat dengan benar sesuai ilmu nahwu dan sorop.
Selain itu juga mampu menafsirkan dan menerjemahkan makna dalam kajian kitab gundul tersebut. Sebab, kajian kitab kuning untuk memperdalam ilmu ibadah dan hukum Islam (fiqh).
“Semua santri di sini wajib memperdalam kajian kitab kuning,” katanya menjelaskan.
KH Hasan Basri pimpinan Ponpes Nurul Hasanah Rangkasbitung mengatakan bahwa santri yang memperdalam kitab kuning itu datang dari berbagai daerah di wilayah Banten,Bogor hingga Jakarta.
Pengajian khusus kitab kuning tersebut melalui coretan dengan menggunakan tinta untuk memaknai isi kitab itu.
Sebab, kitab kuning atau kitab gundul karena huruf-hurufnya belum memiliki tanda baca dzoma, fathah, dan kasrah.
Disamping itu, makna harfiah bisa berubah dan perlu pengkajian khusus serta diskusi, sehingga mereka memiliki kompetensi di bidang pengetahuan agama Islam.
Metode pengajian khusus itu setelah kiai atau ulama menyampaikan kajian kitab kuning kepada santri atau peserta didiknya.
Pengkajian kitab kuning, antara lain ilmu fikih, akidah, tasawuf, Ibadah, muamalah, dan tafsir Alquran.
Tidak ada komentar