
Caption : Komentar Nitezen
JUARAMEDIA, LEBAK – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar daerah. Muhammad Ridwan, siswa Kelas XII SMKN 1 Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, berhasil mengalahkan mahasiswa dari universitas ternama seperti UI dan UGM dalam Kompetisi Trading Nasional.
Namun, keberhasilan Ridwan justru menyeret nama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM, ke ruang diskusi publik di media sosial. Sejumlah warganet mengaitkan prestasi tersebut dengan isu relasi kekuasaan dan latar belakang pendidikan, memunculkan perbandingan yang viral di kolom komentar.
” Kalau Gubernurnya KDM pasti udah dipanggil ya, cuma sayang ya.. tidak bisa berkata-kata lagi ” Tulis Akun Senja dengan emoji tertawa, Jumat (14/2/2026)
Dalam unggahan Juaramedia.com, berbagai komentar warganet bermunculan. Ada yang menyindir bahwa mahasiswa kampus besar kerap dianggap unggul karena faktor “jalur kekuasaan”, sementara pelajar SMK dinilai murni berprestasi dari kerja keras.
“Kalau sodaranya gubernur baru dipanggil gubernur,” tulis akun Mumtaz_13, disambut reaksi emoji tertawa dari pengguna lain.
Komentar lain menyebut nama KDM secara tidak langsung, menyiratkan bahwa prestasi Ridwan menjadi bukti bahwa kualitas tidak selalu ditentukan oleh status kampus elite maupun relasi pejabat.
Di sisi lain, banyak alumni SMKN 1 Rangkasbitung menyatakan kebanggaannya. Mereka menegaskan bahwa sekolah tersebut memiliki sistem seleksi dan kualitas akademik yang kuat.
“Jangan salah, masuk SMKN 1 Rangkasbitung, harus seleksi dan nilainya bagus,” tulis akun Bhoedal Rabit.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana prestasi pendidikan lokal mampu menggeser narasi elitisme kampus besar, sekaligus membuka diskusi publik tentang kesetaraan kesempatan di dunia pendidikan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak yang mengaitkan isu tersebut dengan Gubernur Jawa Barat. Namun, viralnya nama KDM dalam kolom komentar menunjukkan kuatnya sensitivitas publik terhadap isu relasi kekuasaan dan prestasi akademik.
Keberhasilan Muhammad Ridwan sebagai juara 1 Nasioanal Trading Forex – pun menjadi simbol bahwa pelajar daerah mampu bersaing di tingkat nasional tanpa harus berasal dari universitas papan atas. (*)