Mewakili Presiden, Menko PMK Muhaimin Iskandar Tegaskan Pers Tak Boleh Kalah oleh Algoritma di HPN 2026

Yayat - JuaraMedia
9 Feb 2026 11:23
HPN 0 93
3 menit membaca

Caption : Menko PMK Muhaimin Iskandar pada acara HPN 2026 di Banten

JUARAMEDIA, SERANG – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhaimin Iskandar menghadiri puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar di Kota Serang, Provinsi Banten, Senin (9/2/2026)Kehadiran Muhaimin mewakili Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang berhalangan hadir karena agenda kenegaraan yang bersamaan.

Dalam sambutannya, Muhaimin menyampaikan salam hormat serta ucapan selamat Hari Pers Nasional 2026 dari Presiden Prabowo Subianto kepada seluruh insan pers Indonesia.

“Presiden Prabowo Subianto menyampaikan penghargaan dan apresiasi setinggi-tingginya kepada insan pers Indonesia atas dedikasi, pengabdian, dan peran strategisnya bagi bangsa dan negara,” ujar Muhaimin.

Acara puncak HPN 2026 tersebut dihadiri sejumlah pejabat nasional dan daerah, di antaranya Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi,  Ketua MPR RI Ahmad Mujani looh,Menteri Kebudayaan, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Wakil Menteri Komunikasi Malaysia, Gubernur Banten Andra Soni, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, Ketua Umum PWI Ahmad Munir, anggota DPR RI, serta para kepala daerah dan pimpinan DPRD.

Muhaimin menegaskan bahwa dunia saat ini bergerak sangat cepat dan tidak lagi sekadar berjalan, tetapi dinavigasi oleh informasi, data, dan algoritma. Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI), peran pers dinilai semakin krusial dalam menjaga kualitas demokrasi dan arah bangsa.

“Kalau dulu wartawan disebut ratunya dunia, hari ini algoritma seolah menduduki singgasananya. Namun arah bangsa dan kualitas demokrasi tetap harus berada di tangan pers yang berkualitas,” tegasnya.

Menurut Muhaimin, batas antara fakta dan rekayasa di era digital semakin tipis. Satu-satunya pembeda yang mampu menjaga kepercayaan publik adalah verifikasi yang dijalankan dengan etika dan tanggung jawab jurnalistik.

“Tanpa sentuhan manusia, jurnalisme berisiko kehilangan empati. Tanpa verifikasi dan etika, informasi bisa berubah menjadi berita halusinasi,” ujarnya.

Muhaimin menekankan bahwa jurnalisme tidak pernah netral dalam dampaknya. Pers memiliki peran sebagai suluh peradaban, motor perubahan, sekaligus penjernih informasi di tengah banjir hoaks dan disinformasi.

“Rakyat tidak hanya membutuhkan informasi yang cepat, tetapi informasi yang akurat, jujur, dan membawa arah kebaikan,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa perkembangan AI dan teknologi digital tidak boleh menggerus nilai-nilai jurnalisme maupun merusak ekonomi media massa.

“Teknologi harus menjadi alat bantu, bukan pengganti. Jurnalisme tidak boleh kalah oleh algoritma,” tegas Muhaimin.

Muhaimin mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini menjadi salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Lebih dari 229 juta penduduk atau sekitar 80 persen populasi telah terhubung dengan internet, dengan rata-rata penggunaan media sosial hampir tiga jam per hari.

“Kondisi ini membuat masa depan ekonomi, stabilitas sosial, bahkan kohesi kebangsaan sangat dipengaruhi oleh kualitas informasi dan sentimen media,” ujarnya.

Karena itu, pers yang sehat dinilai bukan hanya soal kebebasan dan profesionalisme, tetapi juga keberlanjutan ekosistem media dan keadilan ekonomi bagi perusahaan pers.

Muhaimin mengakui, tuntutan menghadirkan jurnalisme berkualitas semakin tinggi, sementara tantangan model bisnis media di tengah disrupsi digital masih menjadi pekerjaan rumah besar.

“Pemerintah berkomitmen tidak membiarkan pers berjalan sendirian. Upaya untuk melindungi kerja-kerja pers dan mengokohkan ekonomi media akan terus diperkuat,” katanya. (*)

 

Yayat - JuaraMedia
Author: Yayat - JuaraMedia

Pemimpin redaksi