Oplus_131072Caption : Plt Asintel Kejati Banten Aditya Rakatama ketika di wawancara wartawan usai rapat koordinasi di Pasar Induk Tanah Tinggi, Tangerang
JUARAMEDIA, TANGERANG —Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten mendorong desa-desa di wilayah Provinsi Banten agar mandiri secara pangan melalui program “Jaga Desa” yang diinisiasi oleh Kejaksaan Agung (Kejagung). Program ini ditindaklanjuti melalui rapat koordinasi di Pasar Induk Tanah Tinggi, Kota Tangerang, Rabu (16/7/2025).
Plt. Asisten Intelijen Kejati Banten, Aditya Rakatama, SH.MH, menyebut bahwa program ini merupakan hasil dari kerja sama berbagai pihak seperti:
PT Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) Indonesia, Universitas Telkom, PT Pupuk Indonesia, Kejari Kabupaten Tangerang, Serang, Pandeglang, dan Lebak
“Kejaksaan mendorong agar desa-desa di Banten mandiri secara pangan dengan mengoptimalkan peran BUMDes melalui program Jaga Desa ini,” ujar Aditya.
Empat Kabupaten Siap Tanam Bawang Merah
Dalam rapat tersebut, disebutkan bahwa terdapat empat kabupaten yang telah menyatakan kesiapan untuk menanam bawang merah guna memenuhi kebutuhan Pasar Induk Tanah Tinggi yang selama ini pasokannya berasal dari luar Provinsi Banten.
Langkah awal yang akan dilakukan meliputi: Identifikasi dan penyiapan lahan oleh pemerintah kabupaten, Pengujian unsur hara tanah oleh Universitas Telkom, Penyediaan pupuk oleh PT Pupuk Indonesia
“Akhir Juli 2025 akan dilakukan rapat lanjutan untuk merealisasikan tanam bawang ini secara bertahap,” terang Aditya.
20 Persen Dana Desa Bisa Digunakan untuk Ketahanan Pangan
Terkait pembiayaan, Aditya menjelaskan bahwa penggunaan dana desa untuk program ini diperbolehkan berdasarkan Permendes Nomor 2 Tahun 2024, yang menyatakan bahwa 20 persen dana desa dapat dimanfaatkan untuk ketahanan pangan.
“Kejaksaan akan mengawasi penggunaan anggaran ini agar tepat sasaran dan tidak menimbulkan risiko hukum,” tegasnya.
Peluang Ekonomi Baru Bagi Petani Banten
Direktur Paskomnas Indonesia, Hartono Wignyopranoto, mengungkapkan bahwa Pasar Induk Tanah Tinggi setiap harinya memperdagangkan lebih dari 3.000 ton sayur-mayur, namun hanya 5 persen yang berasal dari Banten.
Target ke depan adalah meningkatkan pasokan Banten menjadi 20 persen agar membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan penghasilan petani lokal, khususnya di kalangan anak muda.
“Selama ini pola tanam petani seragam, sehingga harga sering anjlok. Dengan program ini, pola tanam diatur agar panen bergiliran dan harga tetap stabil,” jelas Hartono. (hms/budi)