oleh

Mengolah Sampah Menjadi Berkah, Tren Gaya Hidup Berkelanjutan

(Gagasan Dalam Menjadikan Insan Profil Pelajar Pancasila)

Penulis Dra. Hj. Djamilah Sudjana, M.Si Kepala SMAN 1 Kalanganyar – Kabupaten Lebak-Banten

Gaya hidup berkelanjutan (sustainable lifestyle) belakangan menjadi booming dikampanyekan di negara kita. Media sosial turut membantu memasyarakatkan untuk mengenalkan dan peduli terhadap gaya hidup Sustainable lifestyle sendiri menurut United Kingdom dalam Jurnal Teknik ITS Vol 1 no 1 (Sept, 2012), ialah gaya hidup yang sadar akan lingkungan dan menyadari konsekuensi atas pilihan yang dibuat yang maka dari itu akan membuat pilihan yang nantinya memiliki potensi negatif yang paling sedikit. Hal tersebut bukan hanya sekedar peduli terhadap lingkungan namun juga melibatkan proses berpikir dalam jangka panjang, karena hampir semua tindakan yang kita lakukan memiliki dampak pada lingkungan dan orang lain , proses berpikir juga termasuk tentang kesehatan dan kesejahteraan, pendidikan dan pengembangan masyarakat bukan hanya uang dan harta.

Berkaitan dengan hal tersebut, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbduristek) Nadiem Makarim  telah meluncurkan Kurikulum Merdeka yang memiliki esensi menghasilkan pelajar yang memiliki Profil Pelajar Pancasila, salah satu elemennya adalah mengajarkan pelajar peduli pada lingkungan. Pelajar digerakkan untuk paham pentingnya keberlanjutan bumi yang lebih sehat, mengembangkan kepekaan mereka terhadap kehidupan yang berkelanjutan, mengenal masalah saat ini untuk mencari solusi. Melalui Kurikulum Merdeka pelajar dipicu melihat masalah global, yang selanjutnya diarahkan berkolaborasi menjalankan satu proyek.

Mas Menteri juga berharap dengan kolaborasi melakukan proyek tersebut, pengetahuan yang diberikan dan didapat akan menjadi bagian paling penting untuk menghidupkan inisiatif dan kepekaan mereka soal keberlanjutan, penghijauan, dan mencintai alam.

Manusia harus bertanggung jawab terhadap kelestarian alam dan tidak merusak alam. Kita harus melihat alam dan lingkungan hidup secara keseluruhan sebagai nikmat dan anugerah Tuhan yang wajib disyukuri, mensyukuri nikmat alam ini, yakni dengan menjaga kelestariannya dan tidak merusak alam dengan semena-mena, termasuk eksplorasi dan eksploitasi yang tidak memperhatikan aspek kelestarian dan keberlanjutannya. Umat Islam harus melihat alam semesta ini sebagai amanah yang diberikan oleh Tuhan untuk dijaga, dicintai dan dimuliakan. Bahwa bumi ini adalah ciptaan Tuhan, dan segala ciptaan Tuhan itu harus dipelihara, dimuliakan dan disayangi, menyayangi bumi berarti menyayangi Tuhan, dan merusak bumi berarti tidak menyayangi Tuhan. Sebagaimana Nawal Ammar yang menulis tentang Islam and Deep Ecology, mengajukan premis; “everything on earth is created by God, everything that God creates reflects His sacredness, and that everything on earth worships the same God”.

Salah satu gaya hidup berkelanjutan yang harus menjadi perhatian dan diterapkan dalam dunia pendidikan mulai dari tingkat pra sekolah sampai pendidikan tinggi yang paling dominan dalam lingkungan kita adalah masalah pengelolaan sampah. Kita berharap melalui dunia pendidikan akan mengubah pola pikir masyarakat untuk dapat mengelola sampah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali oleh lingkungan untuk mengembalikan ekosistem alam untuk terus terawat dan terjaga.

Kita amati pertambahan penduduk dan meningkatnya pola konsumsi masyarakat merupakan faktor utama yang menyebabkan laju produksi sampah terus meningkat. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2020 menaksir timbunan sampah di Indonesia sebesar 67,8 juta ton dan di tahun 2021 naik sekitar 1 ton menjadi  68,6 juta ton.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan sifatnya, sampah digolongkan menjadi dua jenis, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik yaitu sampah yang dapat membusuk dan terurai, seperti sisa makanan, daun kering, dan sayuran. Sedangkan sampah anorganik yaitu sampah yang sulit membusuk dan tidak dapat terurai seperti botol plastik, kertas bekas, karton, dan kaleng bekas.

Pemilahan sebaiknya dilakukan oleh masing-masing rumah selaku produsen sampah dimana sampah tersebut dihasilkan. Sampah yang sudah dipilah sejak level rumah tangga dan ditangani secara terpisah akan sangat membantu mengurangi beban pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA), yang sekitar 70% sampah di dalamnya merupakan sampah organik rumah tangga.

Banyaknya sampah organik yang ada dalam rumah tangga yang terbuang percuma, membutuhkan cara bagaimana kita masing-masing di dalam rumah tangga mengolah sampah organiknya sehingga tidak dibuang ke TPA yang akhirnya terjadi pembusukan di TPA, menghasilkan gas metana yang dapat menyebabkan terjadi pemanasan global dan dampak negatif lainnya. Kita mulai dari rumah dan mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat dan juga bisa membantu melestarikan bumi.

Pengolahan sampah organik dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu pengomposan, baik secara aerobik maupun anaerobik, dan dengan membuat Eco Enzyme. Keistimewaan Eco Enzyme adalah tidak memerlukan lahan yang luas untuk proses fermentasi seperti pada proses pembuatan kompos. Pembuatan Eco Enzyme sangat hemat dalam hal tempat pengolahan dan dapat diterapkan di rumah.

Produksi Eco Enzyme bahkan tidak memerlukan bak komposter dengan spesifikasi tertentu. Wadah-wadah seperti botol-botol bekas air mineral maupun bekas produk lain yang sudah tidak digunakan, dapat dimanfaatkan kembali sebagai tangki fermentasi Eco Enzyme. Hal ini juga menjadi nilai tambah karena mendukung konsep reuse dalam menyelamatkan lingkungan.

Eco Enzyme merupakan produk ramah lingkungan yang mudah dibuat oleh siapapun. Pembuatannya hanya membutuhkan air, gula sebagai sumber karbon, serta sampah organik sayur dan buah. Eco Enzyme adalah hasil dari fermentasi limbah dapur organik, gula (gula coklat, gula merah atau gula tebu), dan air dengan perbandingan 3 : 1 : 10.

Pada dasarnya, Eco Enzyme mempercepat reaksi bio-kimia di alam untuk menghasilkan Enzyme yang berguna dalam pemanfaatan sampah buah atau sayuran. Enzyme dari “sampah” ini adalah salah satu cara manajemen sampah yang memanfaatkan sisa-sisa dapur untuk menghasilkan cairan yang bermanfaat.

Proses fermentasi dalam pembuatan Eco Enzyme berlangsung selama 3 (tiga) bulan. Setelah itu cairan yang dihasilkan, yaitu berwarna coklat gelap dan memiliki aroma fermentasi asam manis yang kuat, sudah bisa dimanfaatkan. Eco Enzyme dapat digunakan sebagai hand sanitizer, desinfektan, campuran deterjen, pembersih lantai, pembersih sisa pestisida, pembersih kerak, dan sebagai bahan spa untuk membantu melancarkan peredaran darah, dan masih banyak lagi aplikasi serta kegunaan lainnya.

Pengelolaan sampah yang paling sederhana memang harus dimulai dari rumah dan lingkungan terdekat, dan tujuan kita membuat Eco-enzyme adalah mengolah sampah rumah tangga agar tidak berakhir di TPA yang dapat menyebabkan kerugian bagi lingkungan. Dengan kata lain tujuan kita membuat Eco Enzyme adalah untuk menyelamatkan bumi, sedangkan berjuta manfaat dari Eco Enzyme adalah bonus dari alam.

Dengan berbagai manfaat, keunggulan Eco Enzyme, dan keefektifannya dalam pengelolaan sampah organik, sangatlah rekomended bila pembuatan Eco Enzyme ini dapat dijadikan salah satu Projek Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka. Beberapa perkembangan sub elemen sampai pada fase tertinggi melebihi harapan yang dapat dikembangkan dalam elemen Profil Pelajar Pancasila antara lain:

Elemen pertama: Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia

Sub elemen: Memahami Keterhubungan Ekosistem Bumi

Mengidentifikasi masalah lingkungan hidup di tempat ia tinggal dan melakukan langkah-langkah konkrit yang bisa dilakukan untuk menghindari kerusakan dan menjaga keharmonisan ekosistem yang ada di lingkungannya.

Sub elemen: MenjagaLingkungan Alam Sekitar

Mewujudkan rasa syukur dengan membangun kesadaran peduli lingkungan alam dengan menciptakan dan mengimplementasikan solusi dari permasalahan lingkungan yang ada.

Elemen kedua: Bernalar Kritis

Sub elemen: Mengidentifikasi, mengklarifikasi, dan mengolah informasi dan gagasan.

Secara kritis mengklarifikasi serta menganalisis gagasan dan informasi yang kompleks dan abstrak dari berbagai sumber. Memprioritaskan suatu gagasan yang paling relevan dari hasil klarifikasi dan analisis.

Sub elemen: Merefleksi dan mengevaluasi pemikirannya sendiri

Menjelaskan alasan untuk mendukung pemikirannya dan memikirkan pandangan yang mungkin berlawanan dengan pemikirannya dan mengubah pemikirannya jika diperlukan

Elemen ketiga: Kreatif

Sub elemen: Menghasilkan ide solusi masalah

Menghasilkan gagasan yang beragam untuk mengekspresikan pikiran dan/atau perasaannya, menilai gagasannya, serta memikirkan segala risikonya dengan mempertimbangkan banyak perspektif seperti etika dan nilai kemanusiaan ketika Gagasannya direalisasikan

Sub elemen: Mencari solusi alternatif dari masalah

Mengeksplorasi dan mengekspresikan pikiran dan/atau perasaannya dalam bentuk karya dan/atau tindakan, serta mengevaluasinya dan mempertimbangkan dampak dan resikonya bagi diri dan lingkungannya dengan menggunakan berbagai perspektif.

Sub elemen: Bereksperimen dengan berbagai pilihan solusi kreatif

Bereksperimen dengan berbagai pilihan secara kreatif untuk memodifikasi gagasan sesuai dengan perubahan situasi

Mari bersama-sama rawat dan selamatkan bumi kita sebagai tanda syukur pada yang maha pencipta bumi, Allah SWT, Tuhan YME.

Semoga bermanfaat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed