oleh

Pengrajin Kain Tenun Baduy Kembali Bangkit. Farid Dermawan: Produk Kerajinan Masyarakat Baduy Sebagai Kain Terbaik Di Dunia

LEBAK, JUARAMEDIA.COM – Kawasan pemukiman masyarakat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, pagi itu ramai di bale-bale amben rumah warga yang terbuat dari bambu dan kayu serta atap rumbia.

Tangan-tangan mereka cukup terampil untuk melilitkan benang melalui alat manual yang digerakkan tangan dan kaki.

Satu demi satu kain tenun itu rampung setelah tiga hari mengerjakan dengan ukuran panjang 2,5 meter dan lebar dua meter.

Harga kain tenun itu bervariasi tergantung jenis dan motif mulai Rp120 ribu hingga Rp750 ribu per potong.

“Kami hari ini mengirim pesanan dua potong kain tenun ke Bali dengan harga Rp500 ribu dan pembayarannya melalui digitalisasi,” kata Anah (30) seorang perajin warga Badui Luar saat ditemui di kediamannya di Kampung Kadu Ketug Desa Kanekes Kabupaten Lebak. Rabu (19/10/2021).

Perajin kain tenun di kawasan pemukiman masyarakat Badui sedikit bernafas lega karena kini permintaan kembali meningkat.

Permintaan itu bukan hanya wisatawan yang datang ke sini saja, namun dari berbagai daerah pun banyak, bahkan dari Provinsi Bali hingga Kalimantan Timur.

Sebelumnya, kata Anah, selama 1,5 tahun di masa pandemi COVID-19 mereka perajin menghentikan kegiatan produksi, karena tidak ada permintaan pasar itu.

“Kami berharap permintaan pasar kembali meningkat usai kasus COVID-19 menurun,” tuturnya.

Usaha kerajinan tenun tradisional masyarakat Badui kembali bangkit setelah permintaan pasar cenderung meningkat.

Permintaan pasar itu karena pemerintah membuka kembali obyek wisata sehubungan kasus corona menurun.

“Kami sejak dua pekan terakhir permintaan kain tenun meningkat dari biasanya satu potong, kini menjadi 10 potong kain tenun per pekan,”  ujar Ambu Silvi (35) seorang perajin tenun warga Baduy di Kampung Kadu Ketug Desa Kanekes Kabupaten Lebak.

Permintaan sebanyak 10 potong kain tenun Badui itu bisa menghasilkan pendapatan Rp1,6 juta dari sebelumnya pendapatan hanya Rp130 ribu/pekan.

Meningkatnya permintaan kain tenun Badui dapat menggairahkan kembali untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat adat.

Selama ini, pelaku kerajinan tenun Badui menjadikan andalan kesejahteraan.

Begitu juga perajin kain tenun Badui, Neng (45) mengaku saat ini kunjungan wisatawan ke sini mulai ramai, termasuk permintaan pasar cenderung meningkat.

“Kami sekarang bisa meraup keuntungan bersih Rp10 juta dari sebelumnya Rp300 ribu/bulan,” terangnya.

Kepala Seksi Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak, Sutisna mengatakan pemerintah daerah hingga kini masih melakukan pembinaan dan pelatihan guna meningkatkan mutu dan kualitas.

Pembinaan kerajinan Baduy itu dilakukan secara bertahap karena jumlah perajin sekitar 420 unit usaha tenun Baduy dan memberikan dampak positif bagi penduduk sebanyak 10.600 jiwa.

Mereka perajin kain masyarakat Baduy dikerjakan secara peralatan manual tanpa mesin.

Mereka mengerjakan satu potong kain tenun Badui berukuran 2×3 meter persegi mencapai dua hari.

Pemerintah daerah terus mendorong pelaku usaha kerajinan kain tenun Badui tumbuh dan berkembang, karena menyerap ribuan tenaga kerja.

Keunggulan kain tenun Baduy itu banyak corak warna dan motif berbeda di antaranya poleng hideung, poleng paul, mursadam, pepetikan, kacang herang, maghrib, capit hurang, susuatan, suat songket dan semata (girid manggu, kembang gedang, kembang saka).

Selain itu juga motif adu mancung, serta motif aros yang terdiri atas aros awi gede, kembang saka, kembang cikur, dan aros anggeus.

“Kami optimistis melalui pembinaan dipastikan kain tenun Badui menembus pasar domestik dan mancanegara,” tandasnya.

Sementara itu Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lebak Farid Darmawan mengatakan pihaknya mempromosikan kain tenun Baduy ke dunia guna meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat suku terasing di Provinsi Banten.

“Promosi juga menggandeng Lembaga Kementerian Pariwisata juga kalangan pengusaha, termasuk desainer muda Amand,” katanya. (arya)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed