oleh

Hanya Ingin Di Mengerti

Dhani pulang ke rumah setelah senja hampir tenggelam, seharian bekerja di kota cukup menguras waktu juga tenaganya. Dhani masuk rumah langsung menuju ruang makan di belakang. Karena ia tahu, kalau sudah sore hari biasanya istrinya sedang sibuk memasak. Namun Dhani melihat sekilas wajah istrinya tidak seperti biasanya.

_”Kenapa terlihat bete begitu, Sof?”_ Dhani hempaskan lelah tubuhnya di kursi makan, matanya hanya melirik wajah Sofie yang nampak murung itu.

_”Ga apa-apa Kang, hanya kesal sama ibu-ibu tetangga.”_

_”Kesal kenapa?”_ tanpa merubah posisi duduk, Dhani bertanya pada Sofie yang tidak jauh di belakangnya.

_”Aku ingin di rumah saja ya, Kang.”_ Sofie memelas.

_”Hmmmppp…”_ Dhani terlihat menghembuskan napas berat.

_”Tadi pagi kamu ikut arisan ibu-ibu komplek? Bagus itu, kamu memang harus bergaul dengan tetangga kita. Aku kan sibuk di luar seharian kerja.”_

_”Maaf Kang …, Aku sudah tidak sanggup mendengar ocehan ibu-ibu tetangga itu,”_ ucap Sofie mendatangi Dhani lalu memegang tangan suaminya itu.

_”Memangnya kenapa? Oh, sekarang aku paham.”_ Dhani tiba-tiba nampak lesu.

_”Aku yang harusnya minta maaf sama kamu, Sof. Karena aku tidak mampu memberikan uang banyak untuk ikuti kemauan seperti ibu-ibu itu.”_

_”Bukan begitu Kang …”_ Sofie terlihat bingung.

_”Sudahlah Sof, kamu memang berhak mendapatkan semua itu, berhak menuntut semua itu dari aku. Minta perhiasan baru, baju baru, tas baru, kulkas baru, kendaraan baru, dan aku tidak sanggup memenuhinya seperti para suami mereka yang kaya, sedangkan aku hanya seorang penulis lepas yang tidak jelas penghasilannya.”_

_’Apa-apaan ini, kenapa jadi seperti pengadilan ada penuntut dan terdakwa segala,’_ dalam hati Sofie menggerutu mendengar kesalahfahaman suaminya.

_’Padahal aku hanya ingin di rumah saja, belajar mengaji sama suamiku, shalat berjama’ah, baca menu masakan di majalah, sambil menjaga kandunganku tetap sehat.’_ hati Sofi masih mendumel, sambil merapikan meja makan.

***

Dhani dan Sofi memang baru 2 tahun berumah tangga, sekarang Sofi sedang hamil 4 bulan. Setelah menikah, keduanya memutuskan untuk mengambil KPR (Kredit Perumahan Rakyat). Mereka tinggal di sebuah perumahan sederhana di pinggiran kota. Umumnya kehidupan msyarakat di lingkungan perumahan selain bersifat individualis juga materialis, saling bersaing membanggakan diri menjadi orang paling kaya dan terpandang, tidak sedikit banyak juga yang terlilit hutang, demi menjaga gengsi keluarga. Begitulah kehidupan masyarakat zaman sekarang.

***

_”Kalau sudah siap. ayo kita makan dulu, Sof. Aku sudah lapar, nih.”_

_”iya, ini sudah aku siapkan. Akang makan duluan aja.”_ Dihidangkannya sepiring makanan lengkap dengan lauk pauk buat suami tercinta, lalu cepat-cepat Sofie bereskan peralatan masak dan piring kotor ke arah belakang dengan memendam perasaan kesal. Sedangkan Dhani mulai menikmati makanan yang disajikan istrinya itu.

Tapi di belakang suara hati Sofi masih saja mendumel.

_’Gaul dengan tetangga itu baik. Gaul dengan tetangga itu baik. Gaul dengan tetangga itu baik. Baik apanya?!’_ Sofi mengerutu habis di dalam hatinya.

_’Aku hanya ingin di mengerti seperti RA Kartini, Kang. Mengabdi kepada Negeri juga kepada suami. Aku ingin punya banyak waktu berdua bersamamu, Kang!’_ begitu lirih hati Sofi memendam perasaan kesal di hati, sambil bereskan piring yang selesai dicuci.

_”Prak!”_

_”Ada apa, Sof?!”_

Dhani yang asyik menikmati makan kaget mendengar suara di dapur.

_”Ga apa-apa, Kang. Cuma piring pecah.”_ jawab Sofi.

_“Makanya hati-hati, kamu kan lagi hamil.”_ Dhani memberi perhatian.

_’Gaul dengan tetangga itu baik. Gaul dengan tetangga itu baik. Baik apanya. Aku mau mandi saja. Basah.

ATJ
Lebak, Januari 2016

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *