Soal Pembangunan SMKN Leuwidamar, KCD Dikbud Lebak Akan Turun Kelapangan

LEBAK – Kepala Cabang Dinas (KCD)  Lebak, Dikbud Pendidikan Banten segera akan turun kelapangan, terkait dengan adanya dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan proyek pembangunan gedung SMKN Leuwidamar.

“Rencananya hari ini saya akan kokasi,” ujar Sirojudin kepala KCD Dikbud Lebak di kantornya, Jumat (5/7).

Meski dalam proyek pembangunan SMKN Leuwidamar ini, kata Sirojudin, pihaknya tidak terlibat langsung, namun demikian pihaknya mempunyai tanggung jawab moral terhadap lancarnya  pembangunan gedung sekolah tersebut.

“SMKN Leuwidamar ini tentunya masuk pada wilayah kerja kami. Karena itu kami juga perlu tau progresnya. Karena itu kami berharap pihak pelaksana juga sering-sering berkoordinasi dengan kami,” katanya.

Sekedar diketahui, Aparat Terkait diminta segera turun  tangan kelapangan terkait dengan pembangunan SMKN Leuwidamar yang diduga dalam pelaksanaanya bermasalah.

“Kami  minta  semua aparat terkait  segera turun kelapangan,  dari KCD Dikbud Lebak untuk pengawasannya, aparat penegak hukum  Kejaksaan untuk dugaan  menyimpangan penggunaan dana RAB nya,” tandas Ifan Febriyanto ketua  Umum DPP LSM Gerakan Pemuda Banten Bersatu ( GPBB), Kamis (4/7).

Proyek pembangunan SMKN  Leuwidamar, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, senilai 2,8 miliar dari APBN 2019, diduga bermasalah. Pasalnya, selain spesifikasi bangunan bermasalah, juga fungsi komite sekolah dalam proyek pembangunan tersebut, tak di fungsikan sebagaimana mestinya.

“Soal uang saya tidak tahu menahu, semua di pegang kepala sekolah,” ujar Sapri, Komite Sekolah SMKN Leuwidamar, Selasa (3/7/2019).

Menurut dia, dirinya ditunjuk sebagai mewakili konsultan mestinya harus tahu biayanya dan bahan-bahannya.

“Misalnya, besi saja harus ukuran 12, 10 inch tapi ukurannya dikurangi, besinya dibencongkan,” imbuhnya.

Ia mengaku, belum mengoreksi terhadap bahan-bahan lainnya, sudah pasti ada yang lebih mengerti tapi dirinya mengakui.

“Untuk pondasi  kebawah saja aturan ukurannya 40 centimeter, ini ada yang 30,20  cm tergantung kontur tanah. padahal seharusnya ukuran 40 centimeter,” tukasnya.

Untuk soal pengambilan uang, meski ia Komite sekolah, namun dirinya mengaku tidak pernah diajak oleh pihak sekolah dalam hal ini kepala sekolah dalam urusan tersebut.

“Memang saya Komite, tapi saya tidak bisa bertanggungjawab sepenuhnya, karena saat mengambil uang, jujur saja saya belum pernah diajak,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, ketika ditanya orang lain sejauh mana keterlibatan Komite soal swakelola, ia tidak memungkiri bahwa hal itu ia tidak pernah tahu menahu, terlebih soal pencairan di Bank.

“Untuk ke Bank, saya tidak tahu, masalah kesana kemari saya tidak tahu, dan belum pernah diajak. Yang mengambil uang, wauallahualam mungkin Bendahara sama kepala sekolahnya. Saya belum pernah, kenyataannya saya belum pernah mendampingi,” terangnya.

Sapri juga mengaku soal anggaran pembangunan tidak tahu menahu. Soal papan reklame anggaran pengerjaan pembangunan tidak tertera dilokasi kegiatan, kata dia, diamankan karena takut kehujanan.

“Saya ada disini, cuma kepanasan doang. Papan anggaran Bahasa sihabudin, semua juga mendengar, taruh didalam saja, takut kehujanan,” dalih nya. (ika/eza /yat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen − 5 =