Warga Desa Buyut Mekar Butuh Sarana Air Bersih.

LEBAK – Warga masyarakat Kampung Nehneur, Desa Buyut Mekar, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak untuk memenuhui kebutuhan Mandi dan Mencuci pakaian terpaksa harus menggunakan air sungai Cimalaung dengan kondisi kotor dan keruh.
Hal tersebut dilakukan mengingat sumur milik warga sudah mulai mengering dan tidak dapat lagi digunakan seperti pada musim kemarau saat ini.
“Dulu sungai cimalaung yang saat ini digunakan airnya besih. Namun, akibat limbah dari pembuangan rumah warga saat ini kondisinya kotor dan keruh. Meski demikian, tidak ada pilihan bagi warga selain menggunakan sungai cimalung untuk kebutuhan mencuci dan mandi,” kata Muhamad Rifa’i warga setempat Juaramedia.com  , Senin (8/10/2018).
Apalagi, ujar dia, sumur yang ada milik warga kondisinya sudah mengering, meskipun ada hanya cukup untuk kebutuhan minum. Dan itu pun tidak semua warga bahkan sebagian warga untuk kebutuhan minum warga harus beli.
“Tidak sedikit warga yang terkena gatal-gatal setelah mandi dari sungai Cimalalung yang kondinya kotor dan keruh, tidak ada pilihan bagi.warga selain menggunakan air tersebut,” imbuhnya.
Menurutnya, dulu pernah ada yang datang Dari Dinas Cipta Karya Provinsi Banten kelokasi survey untuk memberikan bantuan pembangunan sarana air bersih. Bahkan lokasi untuk rencana pembangunannya sudah di ukur. Namun hingga saat ini bantuan untuk sarana air bersih tersebut tidak kunjung juga.
“Saya berharap pemerintah baik Kabupaten maupun provinsi untuk segera memberikan bantuan sarana air bersih atau MCK bagi kebutuhan masyarakar,” pintanya.
Senada dikatakan, Abu, salah seorang warga kampung Rejeg, musim kemarau seperti saat ini hampir rata-rata sumur milik warga mengering dan tidak dapat digunakan.
“Sehingga sebagian warga terpaksa untuk kebutuhan mencuci dan mandi menggunakan sungai cimalaung yang kondisinya kotor dan keruh,” katanya.
Sementara itu, Kasi Pemerintahan Desa Buyut Mekar, Mohamad Rifa’i membenarkan bahwa warga saat musim kemarau ini kesulitan untuk mendapatkan air bersih.
“Setiap harinya warga kesulitan untuk mencari air bersih, terpaksa mereka untuk memenuhi kebutuhan air sehari-harinya di sungai cimalaung, meski kondisi air di sungai itu kotor dan keruh,” pungkasnya. (bud/ali/yat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twenty − twelve =